Menghidupkan Pancasila dalam Interaksi Digital Masyarakat: Dari Hate Speech ke Etika Bermedia

Di tengah riuhnya ruang digital, masihkah Pancasila relevan dengan cara kita berinteraksi di ruang digital ? atau jangan-jangan nilai-nilai itu tinggal di buku pelajaran, sementara di kolom komentar kita berlaku sebaliknya?

Axel Geofani Sasela
Axel Geofani Sasela
Axel Geofani Sasela adalah penulis di Narator.co, mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret dan Guru Pendidkan Pancasila di SMP Negeri 2 Likupang Barat.

Di era ketika jempol kita bisa lebih cepat bergerak daripada pikiran, ruang digital menjadi tempat semua orang berbicara dan menyampaikan isi pikiran sekaligus isi hati.

Kemudahan yang ditawarkan di ruang digital membuat setiap orang sebagai pengguna (user) dapat mengakses dan menyebarkan setiap informasi yang berseliweran.

Namun, ada sisi gelap yang ikut tumbuh yaitu hate speech, perundungan digital, hoaks, dan komentar penuh kemarahan yang kadang tidak kita sadari tapi ikut kita sebarkan sebagai bagian dari cara berinteraksi.

Di tengah riuhnya ruang digital, bangsa Indonesia yang berasaskan Pancasila diperhadapkan dengan beberapa pertanyaaan mendasar seperti : Masihkah Pancasila relevan dengan cara kita berinteraksi di ruang digital ? Atau jangan-jangan nilai-nilai itu tinggal di buku pelajaran, sementara di kolom komentar kita berlaku sebaliknya?

Dunia Digital: Ruang Baru, Tantangan Baru

Percakapan publik hari ini sudah pindah dari balai desa ke layar ponsel.

Linimasa menjadi pasar raksasa tempat jutaan pendapat bertemu atau bertabrakan. Identitas mudah disamarkan, emosi cepat meledak, dan kebenaran sering kabur.

Kita hidup pada zaman ketika berita bohong berlari lebih cepat dari klarifikasi, komentar pedas dianggap hiburan, perbedaan pendapat berubah menjadi keributan, dan konten negatif justru paling mudah viral.

Kalau ruang digital ini kita anggap sebagai “rumah bersama,” tentu kita butuh etika yang membuat rumah ini nyaman dihuni. Di sinilah Pancasila hadir, bukan sebagai slogan, tapi sebagai panduan bersikap.

Pancasila: Bukan Hanya Dasar Negara, Tapi Etika Bermedia

Nilai-nilai Pancasila sering terasa abstrak. Padahal, justru di dunia digital yang serba cepat dan rawan salah paham, nilai itulah yang bisa menjaga interaksi tetap sehat.

Sila pertama mengingatkan kita bahwa setiap agama mengajarkan kejujuran dan menghargai sesama.

Sebelum menekan tombol “kirim,” ada baiknya bertanya pada diri sendiri: apakah ini mencerminkan nilai moral yang aku yakini? Setiap kata meninggalkan jejak bukan hanya di dunia maya, tapi juga di hati.

Sila kedua mengingatkan bahwa di balik foto profil kecil, ada manusia sungguhan. Komentar yang kita anggap lucu bisa membuat orang lain terluka.

Menghindari menghina fisik, menyebar aib, atau mempermalukan orang lain adalah wujud sederhana dari beradab di ruang digital.

Sementara sila ketiga mengajak kita menjaga persatuan, tidak ikut menyebarkan konten yang memecah belah, dan tidak mudah terprovokasi isu sensitif. Berbeda pendapat itu wajar, tapi membenci karena berbeda pilihan bukanlah jalan keluar.

Sila keempat menekankan kebijaksanaan dalam berdiskusi. Membaca informasi sampai tuntas, memeriksa sumber, dan menjawab dengan argument bukan emosi adalah bentuk sederhana dari demokrasi digital.

Tak semua hal harus diperdebatkan; kadang yang bijak adalah diam dan tidak terpancing.

Terakhir, sila kelima mengingatkan bahwa ruang digital harus aman bagi semua : perempuan, anak-anak, minoritas, dan siapa saja.

Menolak bullying, melaporkan akun penyebar kebencian, atau mendukung konten positif adalah cara menciptakan keadilan sosial versi dunia maya.

Dari Hate Speech ke Etika Bermedia: Perubahan yang Bisa Kita Mulai

Interaksi digital sekarang bukan lagi sekadar ruang komunikasi, tetapi menjadi ruang sosial yang sangat menentukan bagaimana kita memahami diri, bangsa, dan nilai-nilai kebersamaan.

Di balik kemudahan saling berkomunikasi, muncul tantangan serius: hate speech, ujaran kebencian yang menyasar individu atau kelompok berdasarkan identitas seperti suku, agama, ras, gender, dan pandangan politik.

Fenomena ini tak hanya merusak hubungan antarpersonal, tetapi juga berpotensi menggerus persatuan yang menjadi pilar utama Pancasila.

Pancasila, sebagai dasar negara dan pandangan hidup berbangsa, mengajarkan kita saling menghargai, gotong royong, dan menjaga persatuan. Prinsip ini harus hidup dalam seluruh bentuk interaksi sosial, termasuk di dunia digital.

Media sosial seharusnya menjadi medium yang memperkuat persaudaraan, bukan tempat terjadinya konflik emosional yang memperuncing perbedaan.

Namun realitas di Indonesia menunjukkan bahwa hate speech di ruang digital masih menjadi persoalan serius.

Sebagai contoh, menurut riset bersama Monash University dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, selama masa kampanye politik dan pemilu 2024 ditemukan sekitar 180.000 konten media sosial yang berisi ujaran kebencian, terutama di platform seperti X (Twitter) dan lain-lain.

Data ini memperlihatkan bahwa meskipun ruang digital menawarkan peluang besar untuk berkolaborasi dan bertukar gagasan, masih banyak konten yang justru memicu kebencian, permusuhan, dan polarisasi.

Jika fenomena ini dibiarkan tanpa upaya sadar memperbaiki etika bermedia digital, maka nilai-nilai Pancasila seperti Persatuan Indonesia dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mudah terkikis oleh relativisme digital yang menjunjung kebebasan tanpa tanggung jawab.

Ujaran kebencian tidak tumbuh begitu saja; ia lahir dari prasangka, kemarahan, dan kurangnya kendali diri. Tapi kita tidak tak berdaya.

Perubahan dimulai dari kebiasaan kecil: menahan diri lima detik sebelum mengirim komentar, membaca ulang tulisan kita, tidak membagikan postingan provokatif tanpa memeriksa sumber, dan tetap sopan meski berbeda pendapat. Pengendalian diri sering kali adalah bentuk keberanian yang paling nyata.

Kita juga bisa membangun budaya saling mengingatkan. Di grup keluarga atau komunitas, mengingatkan dengan halus seperti “beritanya belum jelas, yuk cek dulu,” jauh lebih efektif daripada memarahi.

Gotong royong pun bisa hidup di ruang digital lewat berbagi informasi bermanfaat, mendukung UMKM, menggalang bantuan, atau mempromosikan karya teman. Media sosial bisa menjadi ruang yang terang jika kita mau menyalakan lampu, bukan api.

Sebagai pengguna, kita bukan penonton. Satu komentar sopan bisa meredam puluhan komentar kasar; satu unggahan inspiratif bisa mengubah suasana.

Dalam dunia maya, setiap orang adalah produsen nilai. Kita menentukan apakah ruang digital terasa hangat atau justru penuh kebencian

Contoh Sederhana dalam Kehidupan Sehari-hari

Hal-hal kecil seperti memilih kata yang tidak merendahkan, tidak memviralkan video kekerasan, tidak ikut-ikutan menghina figur publik, menjaga privasi orang lain, atau meminta izin sebelum mengunggah foto dapat memperbaiki suasana digital. Ketika percakapan mulai panas, mematikan komentar adalah pilihan bijak.

Mengingatkan teman dengan santun dan membuat konten inspiratif juga bagian dari praktik Pancasila.

Penutup: Pancasila sebagai Kompas Moral Era Digital

Dunia digital memang penuh drama dan cepat berubah, tapi di balik semua itu tersimpan peluang besar untuk belajar, berbagi, dan mempererat hubungan.

Pancasila dapat menjadi kompas moral yang mengingatkan kita bahwa setiap komentar dan unggahan membawa nilai.

Menghidupkan Pancasila di ruang digital adalah tugas kita semua warga maya sekaligus warga negara. Bila setiap orang mulai dari dirinya sendiri, perjalanan dari hate speech menuju etika bermedia tidak lagi hanya gagasan, tapi menjadi gerakan nyata.

Ruang digital yang beradab bukan mimpi; ia menunggu pilihan kita setiap hari: menebar kebencian, atau menebar kebaikan.

*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret dan Guru Pendidkan Pancasila di SMP Negeri 2 Likupang Barat

Opini penulis merupakan pandangan dan pemikiran penulis dan tidak mewakili pandangan dari Redaksi Narator.co

Bagikan

Baca Tulisan Lainnya

More
Advertisement