Narator.co – Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menjelaskan terkait defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun pada kuartal I Tahun 2026.
Menurut Purbaya, defisit tersebut terjadi seiring dengan percepatan belanja negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sejak awal tahun.
Ia menegaskan bahwa kondisi defisit APBN tersebut masih dalam batas yang normal, mengingat peningkatan belanja negara yang dilakukan pemerintah.
“Itu (defisit APBN, red) sesuai yang normal,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Pemerintah mencatat realisasi belanja negara mencapai Rp815,0 triliun sepanjang periode Januari hingga Maret 2026.
Sementara pendapatan negara mencapai 574,9 Triliun Rupiah atau meningkat 10, 5 persen dibandingkan Maret tahun lalu.
Oleh karena itu, Purbaya menegaskan bahwa kondisi defisit bukan hal yang perlu dikhawatirkan, karena memang telah dirancang dalam struktur APBN.
“Jadi ketika ada defisit, masyarakat, Bapak-bapak, Ibu-ibu jangan kaget. Memang anggaran didesain defisit,’” jelas dia.
Baca Juga: Statistik Pendapatan Negara Triwulan I Tahun 2026
Meski demikian, Kementerian Keuangan akan terus memantau perkembangan pendapatan dan belanja negara sepanjang tahun.
“Tapi yang jelas kita monitor terus selama setahun akan seperti apa pendapatannya dan belanjanya seperti apa,” tutur Purbaya.
“Jadi kita amat berhati-hati dalam memperhitungkan hal ini, “ sambung dia.
Ia juga melaporkan jika selama ini triwulan I tahun 2026, rata-rata belanja sekitar 17 persen terhadap APBN, lebih rendah dibandingkan dengan penyerapan anggaran yang telah mencapai 21,2 persen.
Menurutnya, kondisi berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
“Mudah-mudahan tercapai, Kemungkinannnya besar sekali tercapai di 5,5 atau lebih,” paparnya.



