Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, tak hanya dikenal dengan keindahan lautnya yang memukau, tetapi juga sebagai rumah bagi anak-anak dengan potensi akademis dan kreativitas yang luar biasa.
Sayangnya, bakat-bakat alami bak mutiara terpendam ini sering kali harus layu sebelum berkembang. Mereka terbentur oleh dinding tebal bernama keterbatasan akses dan himpitan ekonomi.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa anak-anak di wilayah kepulauan 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) ini memiliki daya juang yang tinggi. Di tengah keterbatasan fasilitas sekolah dan jaringan internet yang kerap timbul tenggelam, mereka kerap menorehkan prestasi di tingkat lokal, provinsi bahkan Nasional.
Namun, cerita indah itu biasanya berhenti di sana.
Potensi Hebat yang Berujung Stagnan
Banyak anak Sangihe yang memiliki kemampuan di bidang sains, olahraga, hingga seni budaya yang tidak kalah bersaing dengan anak-anak di kota besar seperti Manado, Makassar, apalagi Jakarta.
Sayangnya, ruang untuk mengeksplorasi kemampuan tersebut sangat sempit di tanah kelahiran mereka.
Laboratorium yang kurang memadai, minimnya bimbingan intensif untuk kompetisi tingkat lanjut, serta kompetisi regional yang ‘langka’ membuat bakat mereka tidak terasah secara maksimal.
Mereka memiliki sayap untuk terbang tinggi, namun ruang udaranya dibatasi oleh keadaan.
Terjebak Biaya, Impian yang Dikubur Dalam-Dalam
Jalan keluar paling logis untuk mengembangkan bakat mereka adalah dengan melanjutkan pendidikan atau mengikuti pelatihan di luar daerah. Namun, di sinilah letak ironi terbesar yang sangat disayangkan.
Bagi sebagian besar keluarga di Sangihe yang bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional atau petani kopra, biaya transportasi laut dan udara menuju pusat kota adalah beban yang teramat berat.
Belum lagi memikirkan biaya hidup di perantauan. Ketiadaan biaya ini memaksa banyak pemuda berbakat Sangihe mengambil keputusan pahit: stagnan.
Potensi besar mereka akhirnya mengendap, dan mereka terpaksa menerima realitas untuk tetap berada di kampung halaman tanpa sempat mengecap seberapa jauh kemampuan mereka sebenarnya bisa membawa mereka melangkah.
Menagih Kehadiran Negara di Batas Negeri
Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak. Dalam sebuah diskusi yang saya ikuti, seorang pengamat pendidikan lokal menilai bahwa talenta anak-anak perbatasan adalah aset negara yang disia-siakan jika terus dibiarkan tanpa intervensi yang serius.
Masyarakat Sangihe tidak butuh sekadar janji atau kurikulum baru yang muluk-muluk. Yang mereka butuhkan adalah pemangkasan kesenjangan:
- Beasiswa khusus yang menjangkau anak-anak di pulau-pulau kecil, bukan hanya mereka yang berada di ibu kota kabupaten (Tahuna).
- Subsidi transportasi pendidikan bagi siswa berprestasi yang ingin mengikuti seleksi atau perlombaan di luar daerah.
- Pembangunan pusat-pusat pelatihan keterampilan (skill center) yang merata di kepulauan.
Sangat disayangkan memang, melihat anak-anak cerdas di beranda utara NKRI ini harus menyerah pada keadaan.
Menjaga kedaulatan di perbatasan bukan hanya soal menjaga patok wilayah Negara, tetapi juga tentang memastikan anak-anak Sangihe, generasi penerus bangsa tidak tertinggal dan stagnan di tengah lautan keterbatasan. (Feibe Madonsa)


