Minahasa, Narator.co – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) Stefanus B. A. N. Liow melaksanakan sosilisasi 4 Pilar MPR RI sekaligus menjadi pemateri diskusi, berlokasi di Gedung Trainning Center Unima, Kamis (12/02/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Liow menekankan pentingnya 4 Pilar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Sesungguhnya untuk mengingatkan dan menyegarkan kembali kepada seluruh komponen elemen masyarakat,” tuturnya.
Liow menyebutkan mahasiswa memiliki peran penting dalam terutama dalam menyampaikan pesan-pesan kebangsaaan.
“Pada dasarnya, apalagi mahasiswa itu pasti sudah-sudah tahu mungkin secara teoritis, tapi dengan kegiatan-kegiatan ini, dia mengingatkan dan menyegarkan kembali,” kata Liow.
Dalam pemaparan dan diskusi, ia menuturkan sengaja melakukan pendekatan dialog interaktif agar masing-masing mahasiswa dapat memberikan pandangan dan pendapat mereka.
“Nah, melalui adik-adik mahasiswa ini, entah mulai pada dirinya sendiri, di lingkungannya sendiri, entah asrama atau di kampus atau di jurusan, atau melalui media sosial tadi, dapat menyampaikan pesan-pesan kebangsaan bagi yang dijumpai secara fisik, tetapi juga melalui dunia maya,” jelas dia.
Menurutnya, Program-program seperti ini menjadi menjadi tugas dan dipersiapkan melalui permintaan Presiden, dan Badan Eksekutif Mahasiswa, Ketua DPD RI, diagendakan akan berkunjung di Sulawesi Utara, selain Universitas Samratulangi, tapi juga di Universitas Negeri Manado.
“Memberikan, kuliah umum tentang green democracy, bagaimana dunia kampus untuk memahami, bahkan mengimplementasikan apa makna, apa manfaat tujuan dari green democracy, gagasan serta ide dari Ketua DPD RI, Bapak Sultan Baktiar Najamuddin,” ucapnya.
Di sisi lain, Liow juga menyampaikan beberapa program – program strategis, diantaranya program Penanaman untuk menciptakan lingkungan yang asri.
“Apalagi Pak Presiden kan itu gentol sekali dalam mengatasi pengelolaan sampah dan lingkungan yang asri,” lanjutnya.
Dirinya berharap, agar para mahasiswa sekarang ini harus mempersiapkan ilmu, pengetahuan serta memiliki wawasan kebangsaan.
“Karena di Indonesia Emas 2045 ketika itu juga pasti banyak tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik secara internal yang saya sudah uraikan tadi, tapi juga secara eksternal,” tutupnya (Kai)


