Lelaki Berani dan Puitis Itu Telah Berpulang

Jolly Horonis adalah sosok idealis, berani, dan puitis. Sebuah kombinasi yang jarang utuh dalam satu tubuh muda.

Rendy Saselah
Rendy Saselah
Jurnalis di Barta1.com. Editor di berbagai buku dan Budayawan muda Sangihe.

Nama Jolly Daud Horonis barangkali tak lagi riuh disebut hari ini. Di kampung halamannya, saat saya memberi penghormatan terakhir pada tubuhnya yang terbujur kaku, namanya terdengar lirih seperti gema yang menjauh.

Namun bagi kami yang pernah bergeliat dalam organisasi dalam kurun 2006 hingga 2013 di Universitas Negeri Manado (UNIMA), ia bukan nama biasa.

Menurut Firman Mangangawe (Saat ini guru di Siau), Jolly adalah sosok idealis, berani, dan puitis. Sebuah kombinasi yang jarang utuh dalam satu tubuh muda.

Saya mengenalnya pada 2008, saat pertama kali menjejakkan kaki di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pria berkulit hitam manis itu semula saya kira berasal dari Ambon.

Ia menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (Himaju) saat itu. Ia pengagum berat Glenn Fredly, kerap memetik gitar dan melantunkan “Kasih Putih” atau “Akhir Cerita Cinta.” Kedekatannya dengan lagu-lagu cinta dan komunitas “Ambon Manise” makin menguatkan prasangka saya.

Ia tampak begitu cair dengan siapa saja, seolah tak berbatas identitas. Ternyata saya keliru. Seorang teman memperkenalkan kami lebih dekat.

Ia berasal dari Siau, satu genealogi dengan saya “Sangihe”. Sejak itu, keakraban tumbuh tanpa direncanakan. Perlahan saya terpesona oleh pikirannya.

Jolly “meracuni” saya dengan puisi dan esai, menularkan gairah diskusi, membaca buku, hingga turun ke jalan. Tradisi intelektual itu ia jalani bukan sebagai gaya, melainkan laku hidup.

Kami pernah menghabiskan malam-malam dengan menulis puisi. Tentang pacar imajiner, luka cinta, dan derita orang-orang yang termarjinalkan. Semua dibungkus dalam bahasa yang berusaha jujur.

Jolly, dalam banyak hal, adalah romantis menggemari puisi-puisi cinta ala Khalil Gibran. Di kampus, khususnya di UNIMA ia menjadi salah satu patron aktivis mahasiswa dari Nusa Utara. Jejak organisasinya panjang:

  1. Ketua Himaju Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (2006–2008)
  2. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNIMA (2008–2011)
  3. Penggagas dan pendiri Sanggar Bahtra (Bahasa dan Sastra) FBS UNIMA (2008/2009)
  4. Bersama aktivis FBS, membentuk UKM Jurnalis Mahasiswa Student Press Society (2008/2009)
  5. Salah satu pendiri Aliansi Kekeluargaan Mahasiswa (AKM) Siau–Tagulandang–Biaro (SITARO) di Tondano (2007)
  6. Ketua pertama AKM SITARO (2008–2010). Wakil Ketua Permassi Singkanaung Siau (2008–2009)
  7. Anggota Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), organisasi pemuda berbasis di Yogyakarta (2010)
  8. Sejak 2018 aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan melalui organisasi Masyarakat Adat Nusantara (MATRA).

Ia kerap menjadi pembicara dalam forum kemahasiswaan, turut menginisiasi temu nasional Badan Eksekutif Mahasiswa-Seluruh Indonesia (BEM-SI) di Sulawesi Utara pada 2009, serta dipercaya memberi motivasi dalam seminar dan kegiatan kerohanian mahasiswa asal Sitaro, Sangihe, dan Talaud. Ia juga pernah menjadi dosen luar biasa di sejumlah kampus swasta di Manado dan asisten dosen di UNIMA.

Di masa menonjol itu, ia pernah mengalami kekerasan. Suatu malam, beberapa orang mencarinya di tempat tinggalnya di bawah tangga jurusan. Ia dianiaya, meski berhasil meloloskan diri. Kami menduga ada kecemburuan dan sentimen atas pengaruhnya yang begitu kuat di organisasi mahasiswa kala itu.

Jolly adalah pembelajar linguistik yang serius. Meski mencintai sastra, ia menyelesaikan studi dengan meneliti morfologi Bahasa Sangihe dialek Siau.

Bersama penyair dan budayawan Iverdixon Tinungki, ia menerbitkan antologi puisi berbahasa Sangihe berjudul Daroa, Sasasa, Sinasa pada 2024. Ia juga menulis kajian Struktur Sastra Lisan Sasambo serta cerita rakyat Siau Sense Madunde (Indonesia–Sangihe) yang belum sempat terbit.

Selepas kuliah dan menikah, ia tetap produktif menulis tentang sastra, sejarah, budaya, hingga geopolitik. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media daring seperti zonautara.com, barta1.com, Global Review, dan berbagai media online.

Bahkan setelah saya lulus, kami masih ditakdirkan bekerja bersama dalam penerbitan buku-buku puisi Iverdixon Tinungki di PT. Selo Aheng Utara, Media Zona Utara.

Pada 2018 saya kembali ke Sangihe. Jolly mengikuti istrinya yang bertugas sebagai ASN di Routa, Konawe, Sulawesi Tenggara.

Jarak tak memutus percakapan kami. Media sosial menjadi ruang diskusi dan saling menguatkan. Pertemuan terakhir kami terjadi pada 2024. Kesehatannya mulai menurun. Kami saling menyemangati agar tetap bertahan.

Januari 2026, kondisinya kian melemah. Ishak Sandala, salah satu senior yang dekat dengan Jolly, menelepon kami satu persatu, agar kami serentak mendorong Jolly segera berobat ke Manado. Tetiba pada 4 Februari 2026, ia menulis di media sosial dalam bahasa Sangihe dialek Siau: “Kere’e Seng”—“Beginilah sudah.”

Ia bernapas dengan bantuan oksigen. Pada 12 Februari ia dirujuk menggunakan kapal penumpang menuju Manado. Namun keterbatasan oksigen, alat yang menjadi satu-satunya penopang napasnya menghentikan pengembaraan itu.

“Oksigennya habis. Ambulans yang menjemputnya tak membawa tabung oksigen,” kata Deddy Dawid, junior kami yang menggendongnya turun dari kapal.

13 Februari 2026 – sehari sebelum Valentine. Hari yang selalu ia ingatkan kepada kami sebagai momentum 14 Februari 1946, peristiwa Merah Putih di Sulawesi Utara, ketika para pejuang – termasuk dari Siau – ikut mengibarkan bendera mempertahankan kemerdekaan. Di tanggal yang nyaris berimpitan dengan hari cinta itu, Jolly Daud Horonis, lelaki berani dan puitis itu, kembali ke asal-muasalnya.

Dan saya, yang pernah diracuni puisi dan keberaniannya, belajar sekali lagi bahwa kehilangan adalah bait paling sunyi dalam kehidupan. (*)

Opini penulis merupakan pandangan dan pemikiran penulis dan tidak mewakili pandangan dari Redaksi Narator.co

Bagikan

Baca Tulisan Lainnya

More
Advertisement