Realitas Amnesia Identitas Kultural di tengah Masyarakat Kekinian

Akar kearifan lokal menciptakan pondasi tentang identitas kultural, solidaritas kultural dan eksistensi kultural masyarakat Sulawesi Utara.

Jerry Bambutta
Jerry Bambutta
Jerry Bambutta adalah founder Forum Literasi Masyarakat Sulawesi Utara dan kolumnis di berbagai media online lokal dan nasional.

Saat ini, dengan adanya masifnya inovasi digital, telah memicu laju modernisasi dan globalisasi sangat pesat. 

Laju inovasinya tak lagi bergerak dalam hitungan per dekade tapi dalam hitungan detik. Dengan adanya inovasi teknologi digital, sekat ruang dan jarak bukan lagi menjadi “barrier”.

Dulunya, ketika kehidupan masyarakat masih serba konvensional dan manual, sekat ruang dan jarak adalah “barrier”. Masyarakat yang hidup di area lokal seperti terpisah jauh dari beragam dinamika global.

Hari ini, realitasnya tak lagi demikian. Sekat tradisionalitas tak bisa lagi menjadi batas antara masyarakat lokal dan dinamika global. Melalui konektivitas digital, pengaruh media secara konstruktif sekaligus destruktif merembes deras ke dalam ruang-ruang lokal paling tradisional.

Masyarakat modern yang kian dimanjakan dengan berbagai platform digital yang “easy access” plus menggunakan “easy payment”. Ibaratnya, kaki kita tak perlu ke mana-mana, tapi hanya dengan gadget kita bisa menembus batas ke segala ruang dan tempat.

Sadar atau tidak, dengan adanya disrupsi ini, masyarakat kita sementara di cetak melalui “template” yang kental dengan eforia individualisme, materialisme dan hedonisme.

Efek domino berlanjut akan mengubah “default setting” masyarakat kita. Secara hakikat, kita adalah “homo socius” tapi secara lambat laun tapi pasti di ubah menjadi “homo homini lupus”. Realitas ini bukan lagi sekedar indikasi atau gejala, tapi sementara menggerogoti identitas dan karakter masyarakat kita.

Generasi kita saat ini terancam untuk dipaksa oleh keadaan zaman menjadi “generasi tanpa identitas”. Sadar atau tidak, generasi tanpa identitas ini gagal mewarisi identitas kultural dari generasi sebelumnya, bukan tak mungkin di masa depan, kita akan melihatnya “generasi monster” yang tak lagi memiliki nurani.

Bagaimana dengan Sulawesi Utara yang dikenal luas sebagai “Bumi Nyiur Melambai?”

Hari ini, Sulawesi Utara bisa disebut sebagai “rumah pluralitas” yang menjadi atap bernaungnya beragam etnis, bahasa dan agama.

Secara umum, ada tiga simpul etnis yang mendiami Sulawesi Utara, yaitu etnis Minahasa, etnis Bolaang Mangondow dan etnis Nusa Utara.

Dalam beberapa kajian yang saja cermati, tiga simpul etnis ini memiliki tradisi kearifan lokal yang memiliki keunikan masing-masing. Terlepas dari berbagai keunikan tersebut, akar kearifan lokal menciptakan pondasi tentang identitas kultural, solidaritas kultural dan eksistensi kultural.

Bagi saya pribadi, tiga pondasi kearifan lokal di atas bisa di sebut sebagai “nafas” dari “eksistensi” pluralitas di Bumi Nyiur Melambai. Jika ketiga pondasi kearifan lokal di atas mulai berangsur-angsur di tinggalkan oleh generasi masa kini, maka kita sementara berjalan ke arah masa depan yang akan mengantar kita pada kepunahan eksistensi kultural yang tragis.

Hal ini bukan isapan jempol belaka, saya banyak kali dialog secara lintas etnis,lintas agama dan lintas profesi di berbagai forum dialektika formal dan non formal. Dan saya menjumpai fenomena yang cukup mencemaskan.

Di beberapa kelompok generasi Y dan Z, kontemplasi untuk merawat memori kultural akan kearifan lokal malah di anggap sesuatu yang kolot dan tak punya nilai relevansi dengan kondisi modern. Mereka menggangap catatan dan kontemplasi kultural tak bedanya dengan “buku antik berdebu” yang nasibnya hanya cocok di pajang di rak-rak masa lalu yang akan lapuk seiring waktu. Bagi kelompok awam, hal ini mungkin hal yang biasa. Tapi, bagi saya, kondisi ini cukup mencemaskan jika kita merenungkan apa yang saya uraikan di awal.

Era “post truth” hari ini kian kabur memilah antara “kebenaran” dan “pembenaran”. Akibatnya, penalaran obyektifitas akan mulai di geser oleh sentimentalitas dan subyektifitas.

Anak-anak kita yang hidup di era “post truth” akan diliputi “kegamangan”. Ruang gamang ini adalah persimpangan penting bagi nasib anak-anak kita di masa depan.

Peran para akademisi, budayawan dan rohaniawan harus lebih inklusif meramu distribusi nilai identitas intelektual, kultural dan spiritual dalam era “post truth”. Agar supaya, secuil harapan di hati kita masih bisa tersenyum saat jiwa meninggalkan raga kita. Karena kita masih memiliki tunas-tunas muda yang kelak berakar pada nilai intelektual, kultural dan spiritual yang kokoh dan membumi.

Opini penulis merupakan pandangan dan pemikiran penulis dan tidak mewakili pandangan dari Redaksi Narator.co

Bagikan

Baca Tulisan Lainnya

More
Advertisement