Sastrawan Sangihe: Mentor Sunyi di Balik Kepenyairan Chairil Anwar

Sosok Laurens Koster Bohang adalah seorang sahabat, mentor, sekaligus ruang dialog intelektual bagi Chairil Anwar.

Ikuti Kami
G o o g l e News

Dalam sejarah sastra Indonesia, nama Chairil Anwar selalu berdiri mencolok. Ia dikenang sebagai penyair yang meledakkan bahasa, membongkar konvensi, dan menjadi ikon generasi Angkatan ’45.

Sajak-sajaknya seperti Aku atau Karawang-Bekasi terus hidup dalam ingatan kolektif pembaca Indonesia.

Namun, di balik ledakan energi kepenyairan itu, ada sosok yang jarang disebut: Laurens Koster Bohang. Seorang sahabat, mentor, sekaligus ruang dialog intelektual bagi Chairil.

Bohang bukan penyair besar dengan puluhan buku. Ia tidak seproduktif rekan-rekannya pada masa itu.

Namanya bahkan nyaris tenggelam dalam sejarah yang lebih sering menyorot tokoh seperti Sutan Takdir Alisjahbana, H.B. Jassin, atau Amir Hamzah.

Namun dalam lingkaran kecil pergaulan sastrawan muda di Jakarta pada awal 1940-an, Bohang justru menempati posisi yang unik: ia adalah sosok yang dihormati karena kebijaksanaan, kedalaman berpikir, dan ketenangannya.

Kedekatan Koster Bohang dan Chairil Anwar

Jejak kedekatan antara Chairil dan Bohang dapat dilihat langsung dalam puisi-puisi Chairil. Salah satunya adalah sajak “Kawanku dan Aku” yang ditulis pada 5 Juni 1943 dan secara eksplisit dipersembahkan kepada Bohang.

Baca Juga

Dalam puisi itu, Chairil menggambarkan dua orang yang berjalan bersama menembus malam, kabut, dan hujan.

Imaji perjalanan ini bukan sekadar suasana fisik, melainkan simbol persahabatan dua pemuda yang sama-sama bergulat dengan kehidupan, kesenian, dan gagasan.

Kami jalan sama. Sudah larut Menembus kabut. Hujan mengucur badan

“Chairl Anwar – Kawanku dan Aku” (1943)

Sajak tersebut menghadirkan gambaran persahabatan yang intim – dua sosok yang berjalan dalam malam panjang, berbagi percakapan dan kegelisahan.

Bagi Chairil yang dikenal menjalani kehidupan bohemian dan dekat dengan dunia malam, Bohang tampaknya adalah teman seperjalanan, baik secara harfiah maupun intelektual.

Kehadiran Bohang tidak hanya sebagai sahabat, tetapi juga sebagai bagian dari ruang imajinasi Chairil. Ia menjadi figur yang ikut membentuk lanskap batin penyair itu.

Lahir di Kepulauan Sangihe pada 1913, Laurens Koster Bohang menempuh pendidikan di A.M.S Jakarta.

Ia menulis cerpen dan esai, termasuk tulisan mengenai Amir Hamzah serta cerpen Setangkai Kembang Melati. Beberapa tulisannya bahkan menggunakan nama samaran perempuan: Airani Molito. Namun produktivitas bukanlah alasan utama mengapa ia dihormati.

Dalam lingkaran sastrawan muda saat itu, Bohang dikenal sebagai pribadi yang sabar, rendah hati, dan memiliki kedalaman refleksi.

Bahkan kritikus sastra besar Indonesia, H.B. Jassin, pernah menyebutnya sebagai “kawan dan guru”.

Pernyataan itu menunjukkan posisi Bohang dalam jaringan intelektual sastra masa itu. Ia bukan sekadar rekan diskusi, melainkan sosok yang memberikan perspektif; sejenis mentor informal bagi para sastrawan muda.

Ada sebuah kisah menarik tentang percakapan antara Chairil dan Bohang. Chairil suatu ketika menanyakan identitas di balik nama Airani Molito yang sering ia baca.

Ia curiga bahwa penulis itu adalah Bohang. Bohang menolak disebut penyair. Baginya, penyair bukan sekadar orang yang berpikir puitis atau memiliki pandangan hidup tertentu. Penyair adalah orang yang menuliskan sajaknya.

Jawaban itu mencerminkan sikapnya yang rendah hati sekaligus reflektif. Sementara Chairil justru melihat potensi kepenyairan dalam diri sahabatnya itu.

Percakapan mereka memperlihatkan dinamika menarik: seorang penyair besar yang sedang tumbuh, berhadapan dengan seorang pemikir yang memilih berada di pinggir panggung.

Pada 14 Februari 1945, Laurens Koster Bohang meninggal dunia. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi para sahabatnya.

Chairil Anwar menulis sajak “Kepada Penyair Bohang” sebagai penghormatan. Dalam puisi itu, Chairil menghadirkan Bohang sebagai sosok yang tetap hidup dalam ingatan dan kesadaran.

Bohang, Jauh di dasar jiwamu Bertampuk satu dunia

Chairil Anwar

Puisi ini bukan sekadar elegi. Ia adalah pengakuan bahwa dalam diri Bohang terdapat dunia batin yang luas—sebuah kedalaman yang memengaruhi jiwa Chairil sendiri.

Bahkan dalam tulisan kenangannya, sastrawan Amal Hamzah menulis bahwa walaupun tubuh Bohang telah dimakamkan, jiwanya tetap hidup dalam proses batin sahabat-sahabatnya.

Sosok Sunyi dalam Sejarah Sastra

Sejarah sastra sering mengingat mereka yang paling produktif atau paling revolusioner. Namun perjalanan sastra tidak hanya dibangun oleh nama-nama besar yang berdiri di depan panggung.

Ada pula sosok-sosok yang bekerja dalam diam menjadi teman diskusi, penguji gagasan, atau sumber inspirasi bagi para penulis besar. Laurens Koster Bohang tampaknya adalah salah satu di antaranya.

Tanpa banyak karya, tanpa reputasi yang besar, ia tetap hadir dalam sejarah sastra Indonesia melalui jejak yang lebih halus: pengaruh terhadap para sahabatnya. Dan mungkin di situlah perannya yang paling penting.

Di balik keberanian kata-kata Chairil Anwar, ada percakapan panjang, persahabatan malam, dan dialog pemikiran dengan seorang kelana dari Sangihe yang memilih berjalan sunyi dalam sejarah. (Rendy Saselah)

Tulisan ini pertama kali terbit di Selusurnews oleh penulis yang sama. Baca: Sastrawan Sangihe: Mentor Sunyi di Balik Kepenyairan Chairil Anwar.

Bagikan

Baca Lainnya

More

Rekomendasi untuk anda

Datasentris, data terpercaya & pusat informasi anda

Dataset lintas sektoral dalam negeri dan luar negeri