Tondano, Narator.co — Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah, empat mahasiswa Semester 7 Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), Universitas Negeri Manado (UNIMA), melakukan kunjungan ke makam Kyai Mojo yang berlokasi di Kampung Jawa Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat (9/10/2026).
Kunjungan ini menjadi bentuk penghargaan terhadap perjuangan, pengorbanan, serta dedikasi para tokoh bangsa yang telah berjuang melawan penjajahan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Kelompok 3 yang diketuai Desran Waruwu, bersama anggota Indrawati, Yenni, dan Margareta Datu Tasik.
Kegiatan ini berada di bawah bimbingan dosen pengampu Darmawan Edi Winoto, S.Pd., M.Pd., dan Ngismatul Khoeriyah, M.Pd.
Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di luar ruang kelas, tetapi juga memperdalam pemahaman mengenai nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, serta pentingnya menjaga ingatan kolektif terhadap sejarah bangsa.
Mengenal sosok Kyai Mojo
Kyai Mojo atau Kiai Modjo merupakan seorang ulama dan tokoh penting dalam Perang Jawa (1825–1830).
Ia dikenal sebagai penasihat keagamaan sekaligus salah satu pemimpin perjuangan yang mendampingi Pangeran Diponegoro dalam melawan kolonial Belanda.
Setelah ditangkap Belanda pada 1828, Kyai Mojo kemudian diasingkan bersama para pengikutnya ke Tondano, Minahasa, sekitar akhir 1829.
Kehadirannya menjadi bagian penting dalam sejarah terbentuknya komunitas Jawa Tondano. Kyai Mojo wafat pada 20 Desember 1849 dan dimakamkan di Tondano.
Menghayati Sejarah Melalui KunjunganKetua Kelompok 3, Desran Waruwu, menyampaikan bahwa kunjungan ke makam Kyai Mojo merupakan pengalaman yang memiliki makna historis dan edukatif bagi mahasiswa.
“Kurang lebih satu jam saya bersama teman-teman kelompok berkunjung serta mengheningkan cipta. Sejenak kami juga berbincang dengan penjaga makam, yakni Arbo Baderan, yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Kyai Mojo,” ungkap Desran.
Ia menjelaskan bahwa melalui perbincangan tersebut, kelompoknya memperoleh sejumlah informasi tambahan mengenai sejarah Kyai Mojo dan perjalanan pengasingannya oleh pemerintah kolonial Belanda.
“Hari ini kami banyak memaknai sejarah yang sebelumnya belum kami ketahui. Melalui kunjungan ini, kami mendapatkan banyak informasi sejarah tentang perjuangan Kyai Mojo,” tambahnya.
Desran juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga dalam memahami sejarah secara langsung, tidak hanya melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui kunjungan ke situs-situs bersejarah.
Harapan bagi generasi muda
Di akhir keterangannya, Desran dan kelompoknya berharap generasi muda Indonesia terus antusias mempelajari sejarah dan mengenang jasa para pahlawan.
“Kami berharap generasi muda tidak melupakan sejarah dan terus menghargai perjuangan para pahlawan. Sebab, tanpa perjuangan mereka, kita tidak akan menikmati kebebasan seperti hari ini,” tuturnya.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan perjuangan yang perlu dipahami, dihargai, dan diteruskan oleh generasi masa kini.




