Menantang Angin, Merangkul Bara: Ketangguhan Sangihe di Jantung Cincin Api

Di antara kepulan asap Gunung Awu, gelembung Banua Wuhu, dan guncangan tektonik Filipina, Sangihe tetap berdiri.

Feibe Madonsa
Feibe Madonsa
Feibe Madonsa adalah salah satu tokoh pemuda Nusa Utara. Aktif di berbagai organisasi kepemudaan di perbatasan Indonesia-Filipina dan bergelut dalam pengembangan UMKM lokal.

Kepulauan Sangihe, untaian daratan yang berdiri megah di batas utara Nusantara, adalah definisi nyata dari hidup di garis depan alam.

Menatap langsung ke arah Filipina, wilayah ini bukan sekadar berbatasan dengan negara tetangga secara geografis, melainkan juga berbagi “denyut nadi” tektonik yang sama.

Di balik keindahan lautnya yang biru jernih dan lanskapnya yang hijau subur, Sangihe berdiri tegak di atas bentangan Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) yang aktif, menjadikannya salah satu daerah paling rawan sekaligus paling tangguh di Indonesia.

Kepungan Tiga Raksasa Api

Sangihe tidak sekadar dilewati oleh jalur vulkanik; ia dikepung secara harfiah. Setidaknya ada tiga gunung api aktif yang menjadi tetangga abadi warga Sangihe.

Uniknya, dua di antaranya bersembunyi dalam misteri kegelapan bawah laut, sementara satu lagi berdiri angkuh di daratan.

Gunung Awu (Daratan): Menjadi puncak tertinggi sekaligus pengawas daratan Sangihe. Gunung Awu memiliki catatan sejarah letusan yang panjang dan mematikan, menjadikannya salah satu gunung api paling diwaspadai di Sulawesi Utara.

Gunung Banua Wuhu (Bawah Laut): Terletak di dekat Pulau Mahangetang, gunung api bawah laut ini memancarkan gelembung-gelembung gas panas ke permukaan air, menciptakan fenomena alam yang eksotis sekaligus menjadi pengingat bahwa magma cair hanya berjarak sekian meter di bawah pijakan kaki para nelayan.

Gunung Submarin Mahangetang Baru / Sangihe Underground Volcano: Selain Banua Wuhu, aktivitas seismik bawah laut di sekitar perairan Sangihe terus dipantau, menegaskan bahwa dasar laut mereka adalah lantai yang terus bergolak.

Tidak berhenti di situ, posisi Sangihe yang berdekatan dengan palung-palung laut dalam dan zona subduksi Filipina Selatan membuat wilayah ini menjadi “langganan” guncangan gempa.

Setiap kali lempeng di perbatasan Filipina melepaskan energinya, gelombang kejutnya hampir selalu merambat dan menggetarkan tanah Sangihe.

Seni Bertahan di Atas Tanah yang Bergetar

Bagaimana manusia bisa bertahan di tempat di mana tanahnya bisa bergoyang kapan saja dan gunungnya bisa menyemburkan lava sewaktu-waktu?

Bagi masyarakat Sangihe, jawabannya bukan berpasrah diri, melainkan beradaptasi. Warga Sangihe telah mengembangkan “kepekaan rasa” terhadap alam.

Mereka tidak memusuhi bencana, melainkan membacanya. Melalui pengalaman empiris turun-temurun, masyarakat lokal mampu mengenali tanda-tanda alam sebelum bencana datang—mulai dari perilaku hewan yang tidak biasa, perubahan suhu mata air, hingga suara gemuruh khas dari perut bumi.

Kesiapsiagaan modern kini berkelindan dengan kearifan lokal. Ketika gempa mengguncang atau status Gunung Awu meningkat, rantai koordinasi mandiri antar-kampung langsung aktif, membuktikan bahwa ketangguhan mereka dibentuk oleh rasa kebersamaan yang erat, bukan sekadar instruksi dari pusat.

Budaya dan Tanah Adat: Perisai Spiritual dari Marabahaya

Di atas segalanya, rahasia terbesar keselamatan masyarakat Sangihe terletak pada kekuatan Tanah Adat dan Kebudayaan.

Bagi masyarakat setempat, adat bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah sistem navigasi kehidupan sekaligus perisai spiritual yang menjaga mereka dari segala musibah.

Alam adalah ibu, dan manusia adalah anaknya. Jika anak menghormati ibunya, maka ibu akan menjaga anaknya

Prinsip inilah yang dipegang teguh melalui berbagai ritual adat.

1. Upacara Adat Tulude

Salah satu manifestasi budaya terbesar adalah Tulude (menolak/menolak masa lalu dan menyongsong yang baru).

Secara hakiki, Tulude adalah momen religius dan kultural untuk mengucap syukur atas perlindungan Tuhan di tahun yang lalu, sekaligus memohon keselamatan dari segala bencana, kelaparan, dan mara bahaya di tahun yang akan datang.

Dalam doa-doa adat Tulude, permohonan agar dijauhkan dari murka gunung api dan gempa bumi selalu digemakan.

2. Konsep Sasi dan Penghormatan Lingkungan

Hukum adat Sangihe melarang perusakan alam. Melalui kearifan lokal seperti menjaga hutan lindung di lereng gunung dan tidak merusak terumbu karang di sekitar gunung api bawah laut, masyarakat secara tidak langsung mengurangi risiko dampak bencana, seperti tanah longsor akibat erosi saat gempa.

3. Semangat Mapalus (Gotong Royong)

Ketika bencana benar-benar melanda, ikatan budaya bernama Mapalus atau gotong royong spontan bergerak.

Tanpa menunggu bantuan formal, warga akan saling menyelamatkan, berbagi makanan, dan membangun kembali rumah yang rusak.

Budaya kolektif inilah yang membuat Sangihe tidak pernah karam oleh putus asa.

Harmoni di Batas Utara

Kepulauan Sangihe adalah bukti nyata bahwa ancaman alam yang ekstrem tidak harus berakhir dengan kepunahan peradaban.

Dengan merawat ingatan leluhur, mematuhi hukum adat, dan menjaga keselarasan dengan alam, masyarakat Sangihe berhasil mengubah daerah rawan bencana menjadi rumah yang aman dan penuh berkah.

Di antara kepulan asap Gunung Awu, gelembung Banua Wuhu, dan guncangan tektonik Filipina, Sangihe tetap berdiri. Mereka adalah manusia-manusia tangguh yang menantang angin, merangkul bara, dan diselamatkan oleh budaya. (Feibe Madonsa)

Opini penulis merupakan pandangan dan pemikiran penulis dan tidak mewakili pandangan dari Redaksi Narator.co

Bagikan

#Terpopuler hari ini

Mutiara yang Terperangkap di Beranda Utara: Potensi Anak Sangihe yang Terpasung...

Herry Bogar, Produk Organik yang Bukan Hadir dari Ruang Kosong

Menavigasi Arah Gerak Basis Milenial Nusa Utara dalam Kontribusi Pembangunan Kawasan...