Edukasi, Narator.co – Pembelajaran Bahasa Inggris di era global tidak lagi hanya berfokus pada penguasaan struktur bahasa dan kemampuan berkomunikasi. Bahasa juga dapat menjadi sarana bagi peserta didik untuk memahami perbedaan budaya, membangun dialog, merespons persoalan sosial, serta menghadapi berbagai tantangan di tingkat lokal maupun global.
Hal tersebut menjadi fokus dalam Workshop Peningkatan Kapasitas Guru Bahasa Inggris berbasis Kompetensi Komunikasi Berbudaya yang digelar di SMA Advent Tanah Putih, Likupang Barat, Minahasa Utara, pada 28 Juli 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Manado (Unima), bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru dalam memahami konsep Kompetensi Komunikasi Berbudaya sekaligus mengembangkan kemampuan praktis untuk mengintegrasikannya dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran Bahasa Inggris.
Dosen Unima, Dr. Deisyi Batunan, menjadi fasilitator, sementara para guru Bahasa Inggris SMA Advent Tanah Putih menjadi peserta workshop.
Workshop ini dilaksanakan berdasarkan hasil observasi awal dan kajian literatur yang menunjukkan bahwa pemahaman guru mengenai Kompetensi Komunikasi Berbudaya masih cenderung bersifat parsial. Di sisi lain, para guru belum banyak memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan yang secara khusus menghubungkan pembelajaran komunikatif dengan dimensi interkultural.
Dalam kegiatan ini, Dr. Deisyi Batunan memaparkan sejumlah pokok bahasan, mulai dari tantangan global dan implikasinya bagi pendidikan, konstruk Kompetensi Komunikasi Berbudaya berdasarkan kerangka Byram (1997), hingga integrasi kompetensi tersebut dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Materi juga mencakup berbagai pendekatan dan strategi pembelajaran serta penyusunan lesson plan berbasis Kompetensi Komunikasi Berbudaya.
Membangun Kesadaran melalui Pengalaman Interaktif
Workshop diawali dengan ice-breaking menggunakan Total Physical Response (TPR) Activity. Dalam kegiatan ini, Dr Deisyi menyampaikan sejumlah pernyataan terkait pemahaman, pengalaman, dan praktik pembelajaran para peserta. Peserta kemudian merespons dengan gerakan sederhana jika pernyataan yang disampaikan sesuai dengan pengalaman atau pandangan mereka.
Kegiatan ini menjadi cara untuk membangun suasana workshop yang lebih interaktif sekaligus mengajak para guru merefleksikan pengalaman mereka dalam mengajar.
Hal ini karena setiap guru memiliki pengalaman, keyakinan, dan praktik pembelajaran yang berbeda. Kesadaran terhadap hal tersebut menjadi bagian penting dalam memahami perspektif orang lain.
“Kesadaran terhadap pengalaman dan perspektif diri menjadi penting sebelum guru diajak untuk memahami perspektif peserta didik dan orang lain yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda,” jelas Dr. Deisyi.
Tantangan Global dan SDGs untuk Menuju Pembelajaran yang Bermakna
Workshop kemudian mengarahkan para peserta untuk mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat pada abad ke-21, baik pada tingkat lokal, regional, maupun global.
Dalam diskusi interaktif, ditemukan bahwa isu-isu seperti perubahan lingkungan, ketimpangan sosial, kesehatan, kemiskinan, perdamaian, pendidikan, dan keberlanjutan bukanlah persoalan yang berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan membutuhkan kemampuan untuk bekerja sama melampaui batas geografis dan budaya.
Oleh karena itu, menurutnya Sustainable Development Goals (SDGs) adalah kerangka tujuan global yang dapat menjadi sumber konteks autentik dalam pembelajaran.
Konteks ini menempatkan bahasa Inggris bukan hanya sebagai learning content (materi pembelajaran), melainkan juga sebagai alat untuk memahami persoalan, bertukar perspektif, membangun kolaborasi, dan menyampaikan gagasan.
Dr. Deisyi Batunan: Kompetensi Komunikasi Berbudaya melalui Kerangka Byram
Dalam workshop ini, Dr. Deisyi mengenalkan konstruk Intercultural Communicative Competence (ICC) yang dikembangkan oleh Michael Byram (1997). Konstruk tersebut menekankan bahwa kompetensi komunikasi berbudaya tidak dapat direduksi menjadi pengetahuan mengenai budaya lain.
Kompetensi tersebut mencakup beberapa dimensi yang saling berkaitan, yaitu pengetahuan (savoirs), sikap (savoir être), keterampilan menafsirkan dan menghubungkan (savoir comprendre), keterampilan menemukan dan berinteraksi (savoir apprendre/faire), serta kesadaran budaya kritis (savoir s’engager).
Agar konsep tidak berhenti pada pemahaman teoretis, Dr. Deisyi menjelaskan empat pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, yaitu Problem-Based Learning, Project-Based Learning, Case-Based Learning, dan Inquiry-Based Learning.
Ia juga memberikan sejumlah contoh aktivitas yang telah dilakukan dan dipublikasikan dalam jurnal terindeks Scopus terkait integrasi kompetensi komunikasi berbudaya dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Beberapa aktivitas yang diperkenalkan antara lain joint meeting presentation, storytelling performance, poster campaign, dan guest talk series yang melibatkan guru dan siswa dari berbagai belahan dunia dalam kategori inner circle, outer circle, dan expanding circle.
Melalui poster campaign, misalnya, peserta didik dapat mengidentifikasi persoalan lingkungan di sekitar mereka, mengeksplorasi bagaimana persoalan serupa dipahami dalam konteks budaya yang berbeda, kemudian menyusun pesan kampanye dalam Bahasa Inggris.
Sementara melalui joint meeting presentation, peserta didik dapat bertukar informasi dan perspektif dengan kelompok lain. Aktivitas ini tidak hanya mendorong produksi bahasa, tetapi juga membuka ruang bagi peserta didik untuk melakukan negosiasi makna.
Dari Pemahaman Menuju Perancangan Lesson Plan dan Refleksi
Setelah mendapatkan pemahaman mengenai Kompetensi Komunikasi Berbudaya, para guru kemudian diberi kesempatan menyusun lesson plan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Dalam proses tersebut, para guru dilatih untuk menghubungkan tujuan pembelajaran dengan isu atau konteks yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Para guru bahasa Inggris juga diarahkan untuk menentukan aktivitas, strategi pembelajaran, serta bentuk asesmen yang dapat menangkap kompetensi komunikasi berbudaya.
Dengan demikian, para guru diarahkan bukan hanya fokus pada knowledge transmission, tetapi pada proses knowledge-to-practice, yaitu membantu guru menerjemahkan kerangka teoretis ke dalam praktik pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas.
Dr. Deysi selanjutnya mengarahkan peserta untuk melakukan refleksi atas pengalaman Workshop dengan menggunakan sticky notes. Refleksi ini menjadi kesempatan bagi para guru untuk melihat kembali pengalaman yang diperoleh selama workshop sekaligus memikirkan bagaimana pemahaman baru tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Para peserta diminta menjawab tiga pertanyaan: apa yang membuat hati tersentuh, apa yang membuat mereka mengubah cara pandang, dan apa yang akan dilakukan secara berbeda mulai sekarang.
Dengan pengembangan kompetensi komunikasi berbudaya, para peserta tidak hanya membutuhkan penambahan materi budaya ke dalam pembelajaran bahasa Inggris, melainkan juga perubahan cara pandang terhadap tujuan pembelajaran bahasa itu sendiri.
Bahasa Inggris dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk belajar memahami perbedaan, berdialog dengan perspektif yang beragam, mengembangkan kesadaran kritis, dan menggunakan kemampuan komunikasinya untuk merespons persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka. (Andra)




