Manado, Narator.co – Industri perfilman Sulawesi Utara kembali menghadirkan karya terbaru melalui film komedi-drama berjudul Free WiFi. Film besutan sutradara Dony Mamahit ini dijadwalkan mulai tayang serentak di jaringan Bioskop XXI pada 23 Juli 2026.
Diproduseri Donny Sarijowan, Free WiFi memadukan aktor nasional dengan sederet komedian asal Sulawesi Utara.
Sejumlah nama yang terlibat antara lain Mando GW sebagai Davi, Annette Edoarda sebagai Grace, Putra Dinata sebagai Verdian, serta Ronny Imanuel (Mongol Stres) dan Amoy yang memerankan dua detektif swasta.
Selain itu, film ini juga dimeriahkan oleh sejumlah komedian lokal seperti Jilli Lavenia, Kale, Papanialo, Tanta Mien, Tanta Keke, Sulle, hingga Om Sampel.
Kisahnya mengikuti perjalanan Davi, seorang pengemudi ojek online yang menjadi tulang punggung keluarganya. Demi memperoleh pengakuan di media sosial, ia membangun citra sebagai pria mapan dengan menampilkan gaya hidup mewah di dunia maya.
Strategi tersebut berhasil menarik perhatian Grace hingga keduanya menjalin hubungan. Namun kebohongan Davi mulai terungkap ketika Verdian, mantan tunangan Grace, menaruh kecurigaan dan menyewa dua detektif untuk menyelidiki latar belakangnya. Penyelidikan itu kemudian memicu berbagai konflik, kesalahpahaman, hingga aksi-aksi komedi yang menjadi bumbu utama film.
Eksekutif Produser Habelana Lucia Goni mengatakan, Free WiFi menjadi film yang sangat kental dengan nuansa Manado karena hampir seluruh pemain berasal dari daerah tersebut dan sebagian besar proses pengambilan gambar dilakukan di Kota Manado beserta sekitarnya.
Menurut Lucia, film ini bukan sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi upaya memperkenalkan kemampuan komedian Sulawesi Utara ke tingkat nasional sekaligus mempromosikan potensi pariwisata daerah.
Sementara itu, Amoy mengaku bangga bisa menjalani debut film layar lebar bersama Mongol Stres. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga karena dapat beradu akting dengan komedian yang telah dikenal luas di panggung nasional.
Film Free WiFi diharapkan tidak hanya menghibur penonton, tetapi juga menjadi etalase budaya dan potensi kreatif Sulawesi Utara melalui cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat serta dibalut komedi khas Manado. (*/Lei)




