
NARATOR.CO – Enam dekade berlalu, namun ingatan tentang dahsyatnya letusan Gunung Awu pada 12 Agustus 1966 masih melekat dalam benak Tajudin Manabung.
Tajudin Manabung ( 68) kelahiran Kendahe 11 Mei 1959 merupakan salah satu warga yang mengalami langsung kepanikan saat Gunung Awu meletus pada 12 Agustus 1966. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas I Sekolah Dasar (SD) Kendahe.
Kenangan itu kembali terlintas ketika Tajudin kini ikut turun sebagai relawan dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Awu, khususnya jalur Kendahe.
Kepada media ini, Minggu (13/9/2026), Tajudin menceritakan bagaimana dirinya bersama masyarakat harus menyelamatkan diri saat letusan Gunung Awu terjadi.
Ia mengaku masih sangat kecil ketika suasana kepanikan melanda masyarakat. Warga berlarian mencari tempat aman dan sebagian mengungsi hingga ke wilayah Tahuna.
“Masyarakat panik berlarian. Saya masih duduk SD kelas 1 di Kendahe. Kami lari mengungsi ke Mesjid Kendar I. Besoknya ada kapal yang mengangkut masyarakat karena waktu itu belum ada transportasi darat,” kenang Tajudin.
Setelah dievakuasi, kata dia, para pengungsi kemudian dikumpulkan di gedung gelanggang olahraga yang saat ini dikenal sebagai kawasan Taman Kota Tahuna. Sebagian pengungsi bahkan kemudian dibawa keluar daerah, termasuk ke wilayah Bolaang Mongondow.
“Setelah itu kami dikumpulkan di gedung gelanggang olahraga, yang sekarang menjadi Taman Kota Tahuna. Sebagian pengungsi kemudian dilarikan ke Bolaang Mongondow,” ujarnya.
Enam puluh tahun kemudian, Tajudin kembali berada di kawasan Gunung Awu. Namun kali ini bukan sebagai anak kecil yang berlari menyelamatkan diri dari letusan, melainkan sebagai relawan yang ikut mendaki dan membantu penanganan Karhutla.
Pada Sabtu (12/9/2026), Tajudin bersama para relawan turun ke kawasan Gunung Awu melalui jalur Kendahe untuk membantu upaya pemadaman kebakaran yang masih berlangsung.
Bagi Tajudin, situasi tersebut menjadi pengalaman emosional. Gunung yang pernah meninggalkan kenangan kelam dalam masa kecilnya kini kembali mempertemukannya dengan peristiwa yang berbeda.
“Tentunya saya merasa terharu atas peristiwa yang terjadi di Gunung Awu sekarang,” pungkasnya.
Kisah Tajudin menjadi gambaran bagaimana bencana alam dapat meninggalkan jejak panjang dalam ingatan masyarakat. Dari seorang anak yang pernah menjadi pengungsi akibat letusan Gunung Awu 1966, kini ia kembali ke gunung yang sama dengan peran berbeda—membantu sesama sebagai relawan di tengah ancaman Karhutla.



