Sitaro, Narator.co – Pesona destinasi wisata Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, kian menarik perhatian wisatawan mancanegara (wisman). Hal ini sejalan dengan tren peningkatan jumlah kunjungan wisman ke Sitaro dalam beberapa tahun terakhir.
Kekayaan wisata alam, bahari, keindahan ekologi, serta potensi ecotourism yang dimiliki menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus mengenal karakteristik wilayah kepulauan Sitaro.
Tren peningkatan kunjungan wisman ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan sektor pariwisata daerah, sekaligus memperkuat posisi Sitaro sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sulawesi Utara.
Tren dan Perubahan Pola Kunjungan Wisman ke Sitaro
Berdasarkan Data Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Sitaro, jumlah kunjungan Wisman pada tahun 2023 sebanyak 2.459, melonjak tinggi menjadi 4.012 pada tahun 2024.
Tak berhenti disitu, tren peningkatan kunjungan Wisman ke Sitaro terus meningkat hingga tahun 2025 yang mencapai 4.026 kunjungan.
Geliat pariwisata Sitaro terus menguat. Hingga Agustus 2026, jumlah kunjungan mencapai 3018 wisman, belum termasuk jumlah kunjungan bulan September hingga Desember.
Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sitaro, Buyung Mangangue, mengatakan peningkatan jumlah kunjungan Wisman ke Sitaro menunjukkan destinasi wisata Sitaro semakin mendapat perhatian wisatawan mancanegara.
“Lonjakan angka kunjungan dari tahun ke tahun ini adalah bukti nyata bahwa Sitaro semakin dilirik,” jelas Buyung.
Menurutnya, peningkatan tersebut tidak terlepas dari kekayaan alam Sitaro yang masih autentik serta upaya promosi yang melibatkan para pelaku industri pariwisata.
Dinas Pariwisata juga mencermati adanya perubahan pola kunjungan wisatawan. Jika sebelumnya kunjungan cenderung terkonsentrasi pada periode tertentu, seperti musim liburan, kondisi cuaca dan perairan yang mendukung pelayaran antarpulau, serta pelaksanaan agenda budaya dan turnamen olahraga, kini Sitaro dinilai memiliki peluang untuk menarik wisatawan sepanjang tahun.
“Kami melihat ada pergeseran perilaku wisatawan, di mana Sitaro bukan lagi sekadar destinasi musiman, melainkan sudah perlahan masuk dalam daftar wajib liburan berkelanjutan berkat variasi destinasinya,” tambahnya.
Ragam Destinasi Jadi Daya Tarik
Sitaro memiliki beragam potensi wisata yang dapat dikembangkan untuk memperluas pasar wisatawan, mulai dari wisata bahari, ekowisata, wisata geologi hingga wisata budaya.
Pulau Mahoro menjadi salah satu daya tarik melalui keindahan wisata baharinya. Sementara itu, Pantai Temboko Lehi menawarkan fenomena air laut panas geotermal yang menjadi keunikan tersendiri bagi wisatawan.
Selain wisata bahari, Sitaro memiliki potensi ekowisata melalui keberadaan Tarsius tumpara, primata mungil endemik yang langka, di kawasan Danau Kapeta.
Keberadaan satwa tersebut membuka peluang pengembangan wisata observasi berbasis konservasi yang mengedepankan edukasi lingkungan dan pelestarian habitat.
“Model interaksi berbasis konservasi dengan habitat primata mungil ini menawarkan nilai literasi lingkungan yang sangat berharga,” ujar Buyung.
Daya tarik alam lainnya adalah Gunung Api Karangetang yang menjadi ikon Pulau Siau. Adapun kawasan pesisir Balirangeng menawarkan perpaduan panorama laut dan wisata religi melalui keberadaan Patung Yesus yang menghadap ke bentangan laut.
Gunung Ruang di kawasan Pulau Ruang, dekat Pulau Tagulandang, juga memiliki potensi wisata alam dan geologi. Namun, aktivitas wisata di kawasan tersebut harus tetap memperhatikan kondisi vulkanik serta rekomendasi keselamatan dari pihak berwenang.
Di sektor wisata budaya, Pemkab Sitaro secara konsisten menggelar agenda tradisi, seperti Tulude dan Maliku Wanua. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya lokal, tetapi juga memperkenalkan kekayaan tradisi masyarakat Sitaro kepada wisatawan.
Sektor Pariwisata Berpotensi Dongkrak PAD
Peningkatan kunjungan wisman ke Sitaro juga membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Aktivitas pariwisata berpotensi menggerakkan berbagai sektor usaha, mulai dari akomodasi, kuliner, transportasi hingga jasa wisata.
Namun, optimalisasi potensi tersebut membutuhkan pengelolaan destinasi yang terintegrasi dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha dinilai penting untuk meningkatkan kualitas layanan, memperkuat promosi, serta memastikan manfaat pariwisata dapat dirasakan secara lebih luas.
Buyung mengatakan, tata kelola kepariwisataan yang terintegrasi menjadi salah satu faktor penting untuk mewujudkan sektor pariwisata sebagai penopang perekonomian daerah.
“Melalui tata kelola kepariwisataan yang integratif tersebut, target Sitaro untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai pilar utama penyumbang PAD optimistis dapat segera terwujud,” kata Buyung.
Dia optimistis, apabila tren peningkatan kunjungan dapat dipertahankan dan didukung pengembangan destinasi secara berkelanjutan, pariwisata berpeluang menjadi salah satu sektor andalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sitaro.
“Jika tren ini konsisten, pariwisata jelas akan menjadi ceruk utama penyumbang PAD yang sangat menjanjikan bagi daerah kita,” tegas Buyung.




