Sitaro, Narator.co – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro merespons positif gagasan pembentukan board of tourism atau dewan pariwisata. Plt Bupati Kepulauan Sitaro Heronimus Makainas menilai wadah tersebut dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri pariwisata, dan pemangku kepentingan lainnya.
Heronimus mengatakan pariwisata merupakan salah satu sektor yang berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat Sitaro, selain perkebunan dan perikanan.
“Saya kira ke depan kita bisa bergerak ke arah itu karena di Sitaro selain perkebunan dan perikanan, pariwisata juga merupakan sektor yang membangkitkan perekonomian masyarakat,” kata Heronimus kepada sejumlah media di Manado, Rabu (29/7/2026).
Board of Tourism: Dorong Sinergi Pariwisata dan Budaya
Menurut Heronimus, pengembangan pariwisata tidak dapat dipisahkan dari upaya pemajuan kebudayaan daerah. Kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Sitaro dinilai dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor pariwisata.
Karena itu, Pemkab Sitaro mulai mendorong keterlibatan para pakar kebudayaan untuk membahas langkah-langkah pemajuan kebudayaan daerah.
“Sebagai langkah awal, saya mendorong ketersediaan anggaran bagi para pakar ini bisa kumpul dan duduk bersama supaya kita bisa berdiskusi. Insight mereka sangat penting untuk akselerasi pemajuan kebudayaan,” ujarnya.
Heronimus menilai kebudayaan perlu mendapat perhatian serius karena berkaitan langsung dengan jati diri daerah.
Di sisi lain, kekayaan budaya dapat menjadi daya tarik yang memperkuat pengalaman wisatawan ketika berkunjung ke Sitaro.
Gagasan Board of Tourism
Gagasan pembentukan board of tourism disampaikan Dominik Derek, pemandu wisata yang telah sekitar 10 tahun menekuni profesinya di Pulau Siau.
Dominik mengatakan Sitaro membutuhkan wadah bersama yang dapat mempertemukan pelaku industri pariwisata dengan pemerintah sebagai pembuat kebijakan.
Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan untuk membahas berbagai kebutuhan pengembangan pariwisata, terutama terkait infrastruktur dan regulasi.
“Dari situ saya pikir kita butuh wadah bersama yang mempertemukan pelaku industri wisata dengan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, karena Sitaro butuh penambahan infrastruktur dan penguatan regulasi untuk menunjang sektor ini,” kata Dominik.
Wisatawan Mulai Berdatangan
Dominik menyebut kunjungan wisatawan mancanegara ke Sitaro dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Perkembangan tersebut turut memberikan dampak ekonomi bagi pemandu wisata dan pelaku usaha lainnya.
Para pemandu wisata, ujar Dominik, telah menyusun sejumlah rute untuk wisatawan, khususnya di Pulau Siau. Wisatawan tidak hanya diajak menikmati wisata bawah laut, tetapi juga mengunjungi sejumlah destinasi alam dan budaya.
Beberapa di antaranya Pulau Mahoro, pemandian air panas Temboko Lehi, serta lokasi habitat Tarsius Siau atau Tumpara.
Wisatawan juga diajak mengunjungi sentra kerajinan rumah tangga dan mencicipi produk lokal, termasuk minuman berbahan dasar pala.
“Rangkaian perjalanan tersebut menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas karena melibatkan berbagai sektor, seperti transportasi darat dan laut, penginapan, kuliner, hingga usaha masyarakat,” jelas Dominik.
Potensi Wisata Sitaro
Kabupaten Kepulauan Sitaro terdiri dari 47 pulau yang memiliki beragam potensi wisata, mulai dari wisata bahari, pegunungan, ekowisata hingga wisata budaya. Pulau Mahoro menjadi salah satu destinasi bahari yang memiliki pasir putih dan terumbu karang.
Ada pula Pantai Temboko Lehi dengan sumber air panas alami serta Pulau Makalehi yang memiliki Danau Cinta dan sejumlah peninggalan sejarah.
Di daratan, Gunung Api Karangetang atau Api Siau menjadi salah satu ikon Sitaro. Aktivitas vulkaniknya menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus memberikan kesuburan bagi lahan perkebunan di sekitarnya.
Sementara di wilayah Tagulandang, terdapat Gunung Ruang dan kawasan atol di sekitar Pulau Pasige yang memiliki potensi wisata bahari.
Satwa Endemik dan Kekayaan Budaya Jadi Daya Tarik
Potensi pariwisata Sitaro juga diperkuat keanekaragaman hayati. Daerah ini menjadi habitat sejumlah satwa endemik, termasuk Tarsius Tumpara dan Burung Manguni Siau (Otus siaoensis).
Keberadaan satwa endemik tersebut membuka peluang pengembangan ekowisata sekaligus wisata berbasis penelitian. Namun, pengembangan wisata alam tetap perlu dibarengi dengan upaya perlindungan habitat dan lingkungan.
Selain alam, tradisi masyarakat menjadi potensi lain yang dapat dikembangkan dalam sektor pariwisata. Salah satunya tradisi Muliku Wanua di Tagulandang.
Tradisi menyambut tahun baru tersebut dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi pulau sambil melantunkan seni Masamper.
Bagi Pemkab Sitaro, kekayaan budaya seperti ini dapat menjadi bagian dari identitas sekaligus daya tarik wisata daerah. Karena itu, pengembangan pariwisata dan pemajuan kebudayaan diharapkan dapat berjalan beriringan.
Kehadiran Board of Tourism juga diharapkan membuka ruang kolaborasi antara pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan masyarakat untuk menghasilkan langkah konkret dalam mengembangkan pariwisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Sitaro.
Editor: Sandra Refli Medawo




