Menavigasi Arah Gerak Basis Milenial Nusa Utara dalam Kontribusi Pembangunan Kawasan Nusa Utara

Jerry Bambutta
Jerry Bambutta
Jerry Bambutta adalah founder Forum Literasi Masyarakat Sulawesi Utara dan kolumnis di berbagai media online lokal dan nasional.

Sebutan “Nusa Utara” bukan cuma di kenal di era hari ini, tapi telah di sebut jauh sebelum era kemerdekaan Indonesia. Dalam catatan Wikipedia, kawasan Nusa Utara (WANTARA) di catat memiliki posisi penting pada abad pertengahan karena menjadi penghubung antara Maluku di Timur dan Philipina di Utara.

Ada beberapa catatan historis yang membuktikan bahwa istilah “Nusa Utara” sudah di kenal sejak zaman Belanda. Karya tulisan dari Viersen pada tahun 1903 menyebut wilayah Nusa Utara dengan sebutan bahasa Belanda “Noorden Einlanden”. Istilah “Noorden Einlanden” ini dikaitkan juga dengan laporan jurnal “Het Journaal Van Padtbbrudgge’s Reis Naar Noord-Celebes En De Noorder Einlanden” (Jurnal perjalanan Padtbbrudgge’s ke Sulawesi Utara dan pulau-pulau ke arah utara).

Jurnal ini merangkum perjalanan Padtbbrudgge’s sebagai seorang gubernur VOC dari Maluku pada tanggal 16 Agustus hingga Desember 1677. Dengan kata lain, Nusa Utara telah di kenal sejak 349 tahun lalu.

WANTARA merujuk pada gugus kabupaten yang terletak berjejer di batas utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan samudera Pasifik dan negara Philipina (khususnya wilayah Southern Mindanao). Sekalipun ketiga gugus kawasan Nusa Utara ini sudah menjadi kabupaten terpisah, tidak bisa di bantahkan bahwa ketiga wilayah kabupaten ini memiliki ikatan karakteristik kawasan yang tidak bisa di pisahkan satu dengan lainnya.

Setidaknya ada empat kesamaan karakteristik kawasan dari tiga wilayah kabupaten Nusa Utara.

Pertama, ketiga wilayah kabupaten tersebut merupakan gugus batas yang membentengi NKRI di wilayah utara Indonesia.

Kedua, ketiga wilayah kabupaten tersebut memiliki corak wilayah kabupaten berbasis kepulauan dan maritim.

Ketiga, ketiga wilayah kabupaten tersebut terletak di jalur “ring of fire” atau jalur vulkanik yang rawan bencana. Keempat, ketiga wilayah tersebut memiliki jejak historis wilayah dan ikatan sosio-kultur yang koheren satu dengan lainnya.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, saya banyak kali berkesempatan berdialog dengan sekelompok “milenial Nusa Utara” (saya membuat akronim kelompok ini dengan sebutan MINTARA).

Dialog ini banyak kali melalui obrolan segar di rumah kopi, diskusi formal secara akademis atau diskusi secara online (whatsapp dan zoom meeting).

Adapun kategori MINTARA tersebut berkecimpung dari beragam profesi yang berasal dari Sangihe, Talaud dan SItaro dalam domisili lokal ataupun diaspora (perantauan). Dalam pengertian secara umum, kelompok generasi milenial adalah kategori generasi yang lahir antara tahun 1981-1995. Di tahun 2026, kelompok generasi milenial berada rentang usia antara 31 tahun – 45 tahun.

Dari rangkaian dialog di atas, saya mencoba membaca ekspektasi di balik kegelisahan basis MINTARA dalam kaitan minat mereka akan pembangunan WANTARA.

Dari hasil telaah pribadi, ada hal menarik yang saya jumpai untuk dijadikan referensi dalam menggerakan basis MINTARA ke arah yang lebih visioner dalam rangka kontribusi pembangunan WANTARA.

Potensi inovasi yang di miliki oleh MINTARA bisa di perankan sebagai salah satu navigator untuk kontribusi signifikan dalam urgensi pemerataan pembangunan WANTARA, mengingat dasar urgesnsi WANTARA sebagai territorial strategis perbatasan Indonesia di Bibir Pasifik yang bersinggungan langsung dengan salah satu pusat gesekan geopolitik Asia di kawasan Laut China Selatan.

Bukan hanya menggerakan basis MINTARA sebatas dalam ruang diskursus, tapi juga harus mendorong lebih jauh ke arah gerakan kolektif yang bermuara dalam transformatif holistic yang membumi di ruang WANTARA.

Jose Ortega Gasset (1883-1955) seorang filsuf Spanyol yang memiliki kontribusi besar dalam dunia filsafat, mengembangkan teori tentang “generasi” sebagai unit analisis sosial dan historis. Dia percaya bahwa setiap generasi memiliki karakteristik dan nilai-nilai yang unik. Dan juga, perubahan sosial dapat di pahami melalui analisis generasi.

Karl Manheim, seorang sosiolog Jerman, pernah menulis essay berjudul “The Problem of Generations” pada tahun 1928. Salah satu poin penting dalam essay tersebut menyatakan bahwa sebuah generasi dapat mempengaruhi perubahan nilai moral, sosial dan politik.

Dari essay tersebut, Karl Manheim memahami generasi dalam konteks historis memiliki peran sangat penting dalam perubahan sosial. Dan dasar pemikiran para pakar tersebut, harusnya bisa memantik keterbebanan para sepuh Nusa Utara, agar supaya merelakan “pangkuan” mereka untuk mengayomi basis MINTARA. Di tangan mereka juga yang kelak akan mengubah wajah peradanan WANTARA dalam bingkai NKRI.

Data Populasi Basis Milenial Nusa Utara (MINTARA)

Dari data BPS 2023 Kabupaten Sangihe, total penduduk berusia milenial (rentang usia 30-44 tahun) berjumlah total 33.500 jiwa. Di mana pada tahun yang sama jumlah total penduduk Kabupaten Sangihe berada pada angka 141.980 jiwa. Artinya, prosentase jumlah penduduk pada rentang usia milenial sebesar 23,5% dari total penduduk Kabupaten Sangihe pada tahun 2023.

Dari data BPS 2023 Kabupaten Talaud, total penduduk berusia milenial (rentang usia 30-44 tahun) di berjumlah 21.751 jiwa, di mana pada tahun yang sama jumlah total penduduk Kabupaten Sangihe berada pada angka 100.772 jiwa. Artinya, prosentase jumlah penduduk pada rentang usia milenial sebesar 21,5% dari total penduduk Kabupaten Talaud pada tahun 2023.

Dari data BPS 2023 Kabupaten Sitaro, total penduduk berusia milenial (rentang usia 30-44 tahun) di Kabupaten Sitaro berjumlah 15.470 jiwa, di mana pada tahun yang sama jumlah total penduduk Kabupaten Sitaro berjumlah 70.398 jiwa. Artinya, prosentase jumlah penduduk pada rentang usia milenial sebesar 21,8 dari total penduduk Kabupaten Talaud pada tahun 2023.

Dari cuplikan data basis MINTARA di atas, rata-rata populasi MINTARA berada pada angka minimal 20% dengan kategori usia produktif di tahun 2026 (rentang usia 31-45 tahun). Persentase ini jangan hanya dinilai strategis hanya karena kepentingan electoral per 5 tahun sekali di setiap pesta demokrasi. Kita harus sadar kekuatan potensial dari MINTARA memiliki daya gerak yang bisa membawa perubahan bagi sebuah daerah.

Ketika prosentase minimal dari basis MINTARA sebesar 20% dibekali dengan navigasi visioner dalam proses aktualisasi diri mereka dalam masyarakat, maka bukan berlebihan jika saya menyebut “raksasa tidur” ini segera siuman dari tidur lelapnya, sehingga siap memberi warna baru dalam partisipasi pemerataan pembangunan WANTARA.

Jurang Pemisah antara Dua Generasi Nusa Utara

Berbagai paguyuban Nusa Utara bertaburan dari tingkat desa, RT/RW, Kabupaten/Kota/Provinsi hingga nasional. Akan tetapi dalam banyak paguyuban Nusa Utara tersebut cenderung didominasi oleh populasi orang tua dan kelompok MINTARA seperti “ter-alienasi” dari ruang paguyuban Nusa Utara tersebut.

Saya melihat seperti ada jurang terlalu lebar antara generasi muda (MINTARA) dan generasi tua di berbagai paguyuban Nusa Utara. Seharusnya, kekuatan kolektif untuk menggerakan juang aspirasi WANTARA terbangun solid dari unsur generasi muda (MINTARA) dan generasi tua. Kenyataannya hari ini, dua kekuatan generasi ini seperti berjalan terpisah dengan dunia mereka masing-masing.

Malahan, kenyataan yang pernah saya jumpai di lapangan, generasi muda (MINTARA) dan generasi tua ini seringkali bukan menjadi satu tim kesebelasan, melainkan menjadi lawan tanding penuh resisten secara diametrical.

Generasi tua yang berniat mempertahankan nilai-nilai masa lalu kerap terperosok dalam alam berpikir feodalistik, sedangkan generasi muda (MINTARA) yang telah beradaptasi dengan era digitalisasi dan globalisasi cenderung berpikir kritis dan independen. Hal ini ibarat menuangkan “minyak” dan “air” yang sulit menyatu dalam satu wadah.

Isu dan Narasi sentral yang diusung kedua generasi ini pun bukan hanya berbeda tapi malah seringkali antagonis.
Oleh karena itu, ruang dialog selama tiga tahun belakangan dengan basis MINTARA menjadi seperti teka-teki yang memantik kegelisahan untuk di pecahkan.

Ada sebuah harapan besar supaya proses pembauran dari dua generasi Nusa Utara ini bisa menjadi cair, dan mampu menciptakan energi kekuatan kolektif yang solid untuk menjadi penggerak progresif dalam upaya juang eksistensi kemandirian Nusa Utara melalui koridor konstitusi di wilayah lokal, pusat dan global.

Menavigasi Arah Gerak Basis Milenial Nusa Utara (MINTARA)

Dari telaah pribadi, saya mencatat ada beberapa karakteristik dari basis MINTARA, dan dari karakteristik tersebut bisa menjadi pijakan untuk menavigasi arah gerak mereka dalam rangka kontribusi bagi pemerataan pembangunan WANTARA, yaitu:

Pertama, dikenal sebagai “digital natives” dengan daya absorpsi informasi yang cepat dan luas

Generasi milenial dikenal sebagai “digital natives” (masyarakat digital) karena mayoritas aktivitas mereka selalu terhubung dengan gadget, internet dan media sosial.

Hal ini membuat MINTARA memiliki daya absorbsi informasi yang cepat dengan wawasan yang sangat luas. Dan juga, membuat MINTARA lebih suka belajar secara visual dan mampu berpikir secara visual di tengah kondisi turbulensi informasi global.

Dengan adanya karakteristik ini, upaya menggerakan MINTARA tak bisa di pisahkan dengan sentuhan relevansi dari literasi digital. Misalnya, pemanfaatan media podcast dan channel youtube bisa menjadi salah satu ruang penyampaian aspirasi sekaligus ruang diskursus kritis tentang isu sentral WANTARA dalam basis MINTARA.

Isu sentral WANTARA dibedah bukan hanya secara “inward looking” (perspektif domestic) tapi juga secara “outward looking” (perspektif geopolitik pasifik). Dengan demikian, posisi WANTARA sebagai perbatasan Indonesia tak lagi di maknai sebagai “backyard” (halaman belakang) yang banyak kali di kurung beragam kondisi minor dan marginalisasi.

Sebaliknya, isu sentral WANTARA di bedah sebagai “frontyard” (halaman depan) Indonesia di kawasan Pasifik. Dengan adanya posisi sebagai “frontyard”, maka sinergitas antara kebutuhan “regional security” (keamanan kawasan) dan “regional prosperity” (kesejahteraan kawasan) adalah hal yang urgen.

Melibatkan para pakar yang menguasai isu sentral Nusa Utara dari beragam sisi, akan memunculkan realitas urgensi Nusa Utara bukan hanya di ruang lokal tapi juga bisa menarik keberpihakan kebijakan dari pemerintah pusat.

Kedua, kebutuhan akan hadirnya “role model” yang otentik dan inspiratif

Basis MINTARA memiliki kebutuhan akan sosok “role model” yang bisa menjadi panutan dan sumber inspirasi, di mana sosok “role model” ini adalah figur yang otentik dan bukan karena polesan populisme yang kamuflatif.

Sosok “role model” yang track record hidupnya teruji dan bukan lahir instan karena polesan media dan nyanyian buzzer. Basis MINTARA membutuhkan Sosok teladan teruji tentang nilai integritas, ketangguhan dan progresifitas yang nyata penuh inspirasi.

Dari pengalaman dialog tiga tahun belakangan, saya tak heran jika basis MINTARA kerap kali sinis dengan sekian banyak figur publik lokal dan nasional. Basis MINTARA ini cukup resisten dengan kamuflase karena lebih menghargai sosok otentik yang alami dan teruji.

Bisa saja, dalam ruang dialog tertentu, basis MINTARA ini terkesan cuek dengan apa yang kita sampaikan, karena mereka lebih terinspirasi bukan hanya karena apa yang kita sampaikan tapi karena apa yang kita buktikan.

Sosok sentral yang bisa menjadi “role model” bisa berperan menjadi lokomotif menarik gerbong MINTARA dan mengarahkannya ke arah yang lebih visioner tapi membumi dalam ruang sosial masyarakat WANTARA.

Ketiga, rasa ingin tahu (curiosity) dan minat eksplorasi yang tinggi

Karena tipikal generasi milenial sebagai “digital natives” dengan daya serap informasi digital yang cepat membuat rasa ingin tahu (curiosity) mereka cukup tinggi.

Pola dari rasa ingin tahu (curiosity) MINTARA berbeda dengan generasi sebelumnya, karena MINTARA hidup dan berkembang di era transisi teknologi dari analog ke digital.

Tipe rasa ingin tahu dari MINTARA lebih praktis karena orientasinya langsung “problem solving” (pemecahan masalah). Contohnya, jika mereka minat belajar coding tak selalu hanya karena mereka suka dengan algoritma digital, tapi karena penguasaan kompetensi tersebut bisa bermanfaat membangun pekerjaan sampingan (side hustle) di luar pekerjaan utama atau juga untuk otomatisasi pekerjaan. Jadi rasa ingin tahunya langsung bermuara pada pengembangan personal skill.

Selain itu, minat ekskplorasi untuk belajar secara otodidak (pengalaman empiris) dari basis MINTARA cukup tinggi. Membuat basis MINTARA kerap kali berpikir “out of the box”. Tak heran jika mereka bisa memunculkan terobosan inovatif yang unik.

Keunikan lainnya dari generasi milenial adalah kemampuan “fast scan” terhadap satu tema isu aktual. Jika tema tersebut mengena, maka mereka bisa melakukan “deep dive” (pendalaman pribadi) secara intens meski hanya membaca “headline” dalam waktu 10 detik.

Berpijak dari hal ini, kita perlu mengemas penyampaian pesan dalam upaya distribusi visi yang lebih membumi bagi basis MINTARA.

Keempat, pola berpikir independen, rasional dan kritis

Dari tiga karakteristik sebelumnya, membuat generasi milenial memiliki pola berpikir yang independen, rasional dan kritis. Dengan adanya tipikal ini, membuat generasi milenial akan selalu melibatkan ruang dialog melalui diskursus kritis.

Ketika lingkungan cenderung feodalistik dan mencoba membungkam penalaran kritis ini, maka basis milenial akan menjadi resisten. Akan jauh lebih baik menginspirasi basis generasi ini secara alami ketimbang mendominasi untuk mendikte mereka. Hal ini akan membuat basis MINTARA memiliki kemampuan menganalisis masalah dan membuat keputusan mandiri dengan melibatkan akses informasi dan teknologi terkini.

Basis MINTARA bukan tipe generasi yang tergolong “asal telan”, karena mereka akan melakukan proses validasi dan verifikasi mandiri terhadap isu dan narasi actual di sekitar mereka. Untuk menggerakan basis MINTARA, kita tak boleh hanya menggunakan penggiringan melalui isu demagogis. Konstruksi isu demagogis tak dibangun dengan argumen yang logis dan rasional. Konstruksi isu demagogis adalah isu yang di bangun untuk mempengaruhi opini public dengan cara memanfaatkan emosi, ketakutan atau persepsi subyektif.

Menggerakan basis MINTARA harus menggunakan pendekatan narasi dengan isu pedagogis terkait Nusa Utara. Isu pedagogis lebih terkait pada upaya pencerahan intelektual di mana Nusa Utara diterjemahkan bukan hanya sebatas “tema polarisasi” tapi di maknai sebagai “tema literasi”.

Basis MINTARA dibawa pada sebuah kesadaran kolektif yang kritis untuk memahami seluk beluk urgensi pemerataan pembangunan WANTARA. Dan untuk menjawab ini, bukan menggunakan narasi provokatif tapi menggunakan kajian berbasis data, fata dan riset komprehensif.

Kelima, kebutuhan akan ruang kolaborasi yang inklusif

Karena karakteristik MINTARA yang sudah diuraikan sebelumnya, membuat basis MINTARA memiliki pola pikir terbuka dengan wawasan yang luas.

Mereka bisa berbicara isu global, isu nasional dan isu lokal secara bersamaan dalam satu meja diskusi. Hal ini membuat basis MINTARA memiliki minat yang tinggi terhadap ruang kolaborasi yang sifatnya inklusif. Tak heran dalam banyak komunitas, banyak generasi milenial menaruh minat yang besar terhadap isu kesetaraan.

Oleh karena itu, dalam menggerakan basis MINTARA, kita tidak boleh memupuk sentiment primordialistik yang sempit dan menutup diri terhadap ruang kolaborasi yang inkusif, di mana ruang kolaborasi bersifat “open source” akan memperluas jangkauan akses dan jejaring, sekaligus mempermudah terjadinya “knowledge sharing”.

Di tambah lagi dengan karakterisrik MINTARA yang memiliki minat eksplorasi empirik, akan membuat ekosistem kolaborasi inklusif menjadi medium yang luas untuk menumbuhkan berbagai inovasi di basis MINTARA.

Semoga goresan-goresan sederhana ini bisa menjadi rujukan perenungan bagi para pemimpin daerah dan sepuh dari Nusa Utara. Bahwa, basis MINTARA tak bisa kita biarkan berjalan sendiri dalam rasa gamang yang melingkupi mereka.

Kita punya beban moral, kultural dan spirutal untuk me-navigasi basis MINTARA ke arah yang visooner dan membumi dalam ruang lokalitas Nusa Utara dan ruang nasional dalam bingkai NKRI.

Oleh: Jerry Bambutta (Founder Forum Literasi Masyarakat)

Opini penulis merupakan pandangan dan pemikiran penulis dan tidak mewakili pandangan dari Redaksi Narator.co

Bagikan

#Terpopuler hari ini

Herry Bogar, Produk Organik yang Bukan Hadir dari Ruang Kosong

Meniti Jalan Juang Menuju Proyeksi Kemandirian Kawasan Nusa Utara (WANTARA)

Mutiara yang Terperangkap di Beranda Utara: Potensi Anak Sangihe yang Terpasung...