Catatan Perbatasan: Sangihe, Di antara Gemuruh Awu dan Deru Laut

Feibe Madonsa
Feibe Madonsa
Feibe Madonsa adalah salah satu tokoh pemuda Nusa Utara. Aktif di berbagai organisasi kepemudaan di perbatasan Indonesia-Filipina dan bergelut dalam pengembangan UMKM lokal.

Menulis tentang Kabupaten Kepulauan Sangihe hari ini adalah tentang merekam sebuah ritme hidup yang tak biasa. Di sini, di beranda utara NKRI yang langsung berhadapan dengan samudra luas, kehidupan tidak berjalan di atas tanah yang diam.

Ia bergerak di antara dua denyut raksasa: Gunung Awu yang sedang menyalak di Level III (Siaga) dan Laut Pasifik yang sedang bergelora hebat.

Ini bukanlah catatan tentang ketakutan, melainkan sebuah refleksi tentang ketangguhan, keindahan yang magis, dan cara manusia perbatasan berdamai dengan takdir geografisnya.

Titik Nol: Di Bawah Bayang-Bayang Raksasa Awu

Dari jendela-jendela rumah warga di seputaran Tahuna hingga ke lereng Kendahe, Gunung Awu tegak berdiri penuh wibawa.

Status Level III (Siaga) yang disematkan padanya bukanlah sekadar angka di atas kertas rilis PVMBG. Ia terasa nyata dari kepulan asap putih kelabu yang sesekali mendesak keluar dari kawahnya, membawa aroma belerang yang samar terbawa angin muson.

Ada garis pembatas tak kasat mata sejauh 4 kilometer dari puncak. Di dalam radius itu, aktivitas manusia mati suri. Kebun-kebun pala dan cengkih yang biasanya riuh oleh tawa petani kini sunyi.

Namun, ada keindahan yang ganjil di sana. Di saat matahari perlahan tenggelam, siluet Awu yang berselimut kabut vulkanik justru memancarkan pesona teatrikal alam yang luar biasa. Angker, namun memikat. Menakutkan, sekaligus menakjubkan.

Jika memutar badan membelakangi gunung, pandangan kita langsung membentur dinding air yang bergolak. Laut Sangihe sedang tidak ramah.

Angin kencang meniup gelombang tinggi yang tanpa ampun menghantam talud-talud di sepanjang Boulevard Tahuna.

Bagi masyarakat kepulauan, laut adalah jalan, pasar, dan halaman bermain. Ketika laut bergelombang tinggi, urat nadi itu seolah tersumbat: Perahu-perahu katir milik nelayan berbaris rapi di tambatan, diikat kuat-kuat agar tak pecah dihantam ombak.

Kapal-kapal malam yang menjadi penyambung hidup dengan daratan Sulawesi harus bertaruh dengan waktu dan cuaca, sering kali terpaksa menunda pelayaran demi keselamatan.

Lalu, bagaimana manusia di atas tanah ini meresponsnya? Di sinilah letak keindahan sejati Sangihe.

Masyarakat Sangihe memiliki radar kultural yang luar biasa dalam membaca alam. Mereka tahu kapan harus naik ke tempat tinggi, kapan harus menambatkan perahu, dan kapan harus saling mengulurkan tangan lewat tradisi gotong royong yang kental.

Sangihe di antara Gunung Awu yang Siaga dan laut yang bergelombang adalah potret abadi dari sebuah wilayah perbatasan. Di sini, batas antara berkah dan bencana begitu tipis, dibatasi oleh kebijaksanaan manusianya.

Ketika malam jatuh di Sangihe, suara gemuruh ombak di pantai dan getaran halus dari perut bumi berpadu menjadi sebuah pengingat: bahwa di ujung utara negeri ini, ada jiwa-jiwa tangguh yang terus menjaga kehidupan tetap berjalan dengan anggun, berani, dan penuh khidmat, tepat di episentrum kemegahan alam. (Feibe)

Opini penulis merupakan pandangan dan pemikiran penulis dan tidak mewakili pandangan dari Redaksi Narator.co

Bagikan

#Terpopuler hari ini

Mutiara yang Terperangkap di Beranda Utara: Potensi Anak Sangihe yang Terpasung...

Monumen Knalpot Brong di Tahuna: Simbol Harapan Baru untuk Ketertiban Lalu...

Chiara Mehare, Pembawa Baki Sang Saka Merah Putih di Peringatan HUT...