Minahasa, Narator.co – Brigade Manguni (BM) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 dengan menggelar acara syukuran di MRT Garage Tondano, Kabupaten Minahasa, Senin (9/3/2026).
Perayaan tersebut berlangsung dengan penuh kebersamaan dan dihadiri jajaran pimpinan organisasi dari berbagai daerah.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Hymne BM “Opo Mana Natas” serta Mars Brigade Manguni yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh seluruh peserta yang hadir.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan kode etik Brigade Manguni sebagai pengingat terhadap nilai-nilai dasar organisasi yang harus dijunjung oleh seluruh anggota.
Momentum peringatan ini juga dirangkaikan dengan kehadiran sejumlah pimpinan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dari berbagai wilayah, termasuk DPD BM Manado dan DPD BM Minahasa Utara (Minut).
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Tonaas Wangko BM, Lendy E. Wangke, didampingi Sekretaris Jenderal Matulandi P. L. Supit, Bendahara Umum Yuri Pantouw, Panglima Utama Adri Marentek.
Turut hadir juga sejumlah anggota Dewan Pimpinan Tonaas lainnya serta perwakilan DPD BM dari berbagai kabupaten dan kota.
Dalam sambutannya, Tonaas Wangko BM Lendy E. Wangke menegaskan bahwa Brigade Manguni merupakan organisasi yang lahir dari panggilan pengabdian, bukan semata-mata kepentingan pribadi.
Ia menuturkan, sejak awal berdiri organisasi tersebut dibangun atas dasar kesukarelaan dan komitmen untuk melayani masyarakat.
“Seperti yang selalu saya katakan bahwa organisasi Brigade Manguni ini merupakan organisasi keterpanggilan. Tidak pernah digaji, tidak dipaksa, hanya mengabdi untuk kepentingan organisasi dan masyarakat,” ujar Wangke.
Ia juga mengingatkan kembali sejarah awal berdirinya Brigade Manguni yang, menurutnya, muncul dalam situasi sulit demi menjaga keamanan dan melindungi tanah Minahasa.
“Dulu, BM hadir hanya untuk membela tanah Toar Lumimut dari ancaman terorisme,” katanya.
Meski demikian, Wangke menyebut perjalanan organisasi selama lebih dari dua dekade tidak selalu berjalan mulus. Namun berbagai tantangan yang dihadapi justru menjadi bagian dari proses pembelajaran dan penguatan organisasi.
“Masa-masa sulit perjalanan BM saya rasa tidak perlu disampaikan secara rinci di sini. Namun teman-teman di DPT dan DPD tentu sudah mengetahui sejarah perjalanannya,” ungkapnya.
Menurut dia, di usia yang telah mencapai 24 tahun, Brigade Manguni dapat dikatakan sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan yang cukup matang. Bahkan, ia menyebut BM sebagai organisasi yang telah memberi inspirasi lahirnya berbagai organisasi lain di daerah.
“Dalam perjalanan waktu, BM bisa dikatakan sebagai ormas yang cukup lama berdiri. Jika diibaratkan seorang bunda, organisasi ini telah melahirkan banyak organisasi lainnya,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan prosesi pemotongan kue ulang tahun sebagai simbol kebersamaan dan persatuan di antara seluruh anggota Brigade Manguni.
Wangke menjelaskan, rangkaian seremonial seperti toast bersama dan pemotongan kue memiliki makna mendalam bagi organisasi.
“Apa yang kita laksanakan tadi, seperti toast dan pemotongan kue, melambangkan satu hati dan satu kebersamaan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa masa depan Brigade Manguni sangat ditentukan oleh komitmen seluruh anggotanya untuk menempatkan kepentingan organisasi dan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
“BM akan menjadi organisasi yang sehat jika tidak melibatkan kepentingan pribadi. Namun jika kita berpikir untuk memajukan organisasi demi kepentingan orang banyak, maka BM akan tetap menjadi organisasi yang kuat dan sehat,” ujar Wangke.
Di akhir sambutannya, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh anggota jika selama masa kepemimpinannya ia dinilai bersikap tegas.
Menurutnya, sikap tersebut semata-mata dilakukan untuk menjaga kedisiplinan serta menegakkan aturan organisasi.
“Selama kepemimpinan saya, saya memohon maaf jika terkadang saya terlalu keras. Namun sikap itu saya lakukan demi menegakkan aturan organisasi agar BM tetap menjadi organisasi yang sehat dan selalu mengedepankan kepentingan masyarakat,” katanya.
Perayaan HUT Brigade Manguni ke-24 tersebut berlangsung dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan, sekaligus menjadi momentum refleksi bagi seluruh anggota untuk terus memperkuat solidaritas serta meningkatkan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Tonaas Budaya Dewan Pimpinan Tonaas (DPT) BM, Titof Tulaka, dalam kesempatan yang sama memberikan pencerahan kepada seluruh anggota mengenai pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dalam kehidupan organisasi.
Ia menekankan bahwa Brigade Manguni bukan sekadar organisasi kemasyarakatan, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga warisan budaya Minahasa.
“Marilah kita untuk menjunjung tinggi etika-etika budaya, karena Brigade Manguni atau yang kita kenal dengan Pasukan Manguni Masiouw bukanlah sekadar organisasi. Lahir di tanah Minahasa pada tahun 2000 dari gelora kepedulian menjaga persatuan di tengah potensi konflik, BM telah tumbuh menjadi benteng penjaga adat dan budaya kita,” ujar Tulaka.
Ia menjelaskan bahwa semangat organisasi berakar pada filosofi kearifan lokal yang menekankan penghormatan terhadap tanah leluhur.
“Kita adalah pasukan yang berlandaskan filosofi ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’, sebuah komitmen untuk selalu menghormati dan menjaga tanah leluhur Minahasa. Dengan simbol burung Manguni yang bijaksana dan waspada, kita berdedikasi untuk pelestarian budaya, pembangunan daerah, dan mengawal keamanan dengan pendekatan yang berakar pada nilai-nilai luhur leluhur,” katanya.
Menurutnya, tanggung jawab tersebut bukanlah tugas ringan, melainkan amanah besar bagi seluruh anggota organisasi.
“Tugas ini bukanlah tugas yang ringan. Ini adalah amanah untuk menjadi pilar, juru bicara, dan garda terdepan dalam menjaga agar api budaya Minahasa tidak pernah padam, bahkan semakin menyala-nyala,” ujarnya.
Dalam penyampaiannya, Tulaka juga memperkenalkan filosofi organisasi yang ia ibaratkan dengan sapu lidih sebagai simbol kekuatan kebersamaan.
“Satu batang sapu lidih tidak akan berarti apa-apa. Satu rumpun besar yang terdiri dari ribuan batang memang kuat, tetapi berat dan lambat. Namun jika sapu lidih itu kita bentuk menjadi 15 hingga 20 rumpun yang lebih kecil, maka pembersihan akan berjalan efektif dan cepat,” jelasnya.
Ia pun mengajak seluruh anggota Brigade Manguni untuk terus bekerja bersama membangun organisasi dan menjaga tanah leluhur Minahasa.
“Kepada seluruh anggota Brigade Manguni yang hadir, pelantikan hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah kerja keras,” katanya.
“Mari kita bahu-membahu membangun organisasi ini dan menjadi bagian dari ‘rumpun sapu lidih’ yang kuat, bekerja dengan hati, kebersamaan, dan rasa memiliki terhadap tanah leluhur Minahasa,” imbuh dia.
Tulaka berharap seluruh anggota dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan penuh kebijaksanaan.
“Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kekuatan, kebijaksanaan, dan petunjuk dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kita,” ujarnya.
Perayaan HUT Brigade Manguni ke-24 tersebut menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas serta komitmen organisasi dalam mengabdi kepada masyarakat dan menjaga budaya Minahasa. (Abner Bawinto)



