Narator.co — Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara pada Mei 2026 tercatat meningkat 4,57 persen menjadi 133,37 dibandingkan April 2026 yang berada di angka 127,54. Kenaikan tersebut menunjukkan daya beli petani terhadap barang dan jasa di perdesaan semakin membaik.
Peningkatan NTP didorong oleh naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 3,50 persen menjadi 169,38. Di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru turun 1,02 persen menjadi 127,00.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Watekhi, mengatakan subsektor hortikultura menjadi penyumbang terbesar kenaikan NTP pada Mei 2026.
“Subsektor hortikultura mengalami kenaikan NTP tertinggi mencapai 20,47 persen. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh naiknya harga tomat,” kata Watekhi.
Selain hortikultura, subsektor tanaman pangan turut mengalami kenaikan NTP sebesar 1,34 persen. Subsektor tanaman perkebunan rakyat meningkat 0,31 persen, sedangkan peternakan naik 0,40 persen. Sementara itu, subsektor perikanan mengalami penurunan sebesar 0,67 persen.
BPS juga mencatat NTP Sulawesi Utara secara year to date meningkat 6,52 persen dan secara tahunan (year on year) naik 1,70 persen dibandingkan Mei 2025.
Baca Juga: Sulut Alami Deflasi 0,61 Persen di Bulan Mei
Menurut Watekhi, membaiknya NTP menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan pengeluaran yang harus mereka tanggung.
“Indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan, sementara indeks harga yang dibayar petani turun. Kondisi ini berdampak positif terhadap kesejahteraan petani,” ujarnya.
BPS mencatat komoditas utama yang mendorong kenaikan It adalah tomat dan kakao atau cokelat biji. Sementara itu, penurunan Ib terutama dipengaruhi turunnya harga cabai rawit dan bawang merah.
Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Sulawesi Utara secara bulanan mengalami penurunan 1,56 persen. Penurunan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 2,47 persen.
Untuk wilayah Sulawesi, kenaikan NTP tertinggi pada Mei 2026 terjadi di Sulawesi Tengah dengan peningkatan sebesar 4,72 persen. Sebaliknya, Gorontalo mencatat penurunan terdalam sebesar 3,06 persen. (Leiden)



